Fajar baru saja merekah di langit Istanbul. Kabut masih menggantung rendah di antara pepohonan di sekitar kawasan diplomatik. Udara pagi terasa lembap, mengembus lembut ke sela-sela jendela Kedutaan Besar Republik Indonesia. Jam menunjukkan pukul lima pagi ketika suara langkah kaki kecil terdengar dari lorong panjang lantai dua. Allysa, dengan rambut yang digelung rapi dan selendang menutupi sebagian wajahnya, berdiri di depan cermin kamar kecil tempat ia bermalam semalam. Matanya sembab, tapi dalam sorot itu ada keteguhan — keputusan yang berat, namun tak bisa dihindari. Di atas meja kecil, tas mungil sudah tertutup rapat. Paspor darurat, tiket ke Jakarta, dan surat perlindungan diplomatik tergeletak di samping segelas teh hangat yang sudah mulai dingin. Ketika ia menarik napas panjang

