Bab 44. Tempat Kenangan

1535 Kata

Malam turun perlahan di atas Istanbul. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air hujan sore tadi, membuat bayangan mansion keluarga Alberto tampak seperti istana yang berkilau dalam kegelapan. Namun di dalam kamar utama itu, suasananya sama sekali tidak seindah pemandangan luar. Allysa masih berdiri di dekat jendela, bahunya tegang, tatapannya kosong. Air mata belum kering di pipinya, sementara langkah Lucas terdengar pelan di belakangnya — berat, mantap, dan menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Lucas bukan pria yang pandai meminta maaf. Ia tumbuh dalam dunia di mana kelembutan dianggap kelemahan, dan kata cinta hanya digunakan untuk mengancam kesetiaan. Tapi malam ini, di hadapan wanita yang masih menolak menatapnya, ada sesuatu yang retak dalam dirinya. Tanpa sepatah kata, ia berja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN