Bab 33. Luka di Balik Malam

1129 Kata

Malam telah turun di kota Istanbul. Hujan ringan membasahi halaman rumah sakit, menetes pelan di jendela besar koridor lantai lima. Lampu-lampu kota berpendar redup, namun di dalam ruang ICU, cahaya putih menyilaukan masih terus menyala—menjaga kehidupan yang nyaris padam. Lucas duduk di kursi panjang di depan ruangan itu. Wajahnya letih, matanya sayu, rambutnya berantakan seperti habis bertarung dengan seluruh neraka. Baru kali ini—dalam hidupnya yang keras dan penuh darah—ia merasa jiwanya terkuras habis. Empat hari tanpa tidur, tubuhnya mulai menolak. Tapi hatinya tidak bisa tenang, tidak bisa beristirahat selagi Allysa masih berjuang antara hidup dan mati. Marco melangkah mendekat, suaranya pelan tapi tegas. “Tuan, tubuh Anda butuh istirahat. Dokter bilang kondisi istri Anda belum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN