Udara sore yang mulai mendingin menyelinap lewat celah jendela besar kamar utama mansion itu. Langit Istanbul memerah, senja perlahan tenggelam di balik cakrawala, sementara aroma laut dari Bosphorus samar-samar terbawa angin. Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan. “Masuk,” ucap Lucas tanpa menoleh dari tempatnya berdiri di dekat jendela. Pintu terbuka. Ermet melangkah masuk lebih dulu, membawa nampan perak berisi dua piring makan malam lengkap dengan lilin kecil di tengahnya. Di belakangnya, Silla datang dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi air putih, obat, dan sepotong roti gandum. “Maaf mengganggu, Tuan,” ujar Ermet sopan. “Makan malam sudah siap. Sesuai permintaan Anda, hanya disiapkan untuk dua orang.” Lucas mengangguk tanpa ekspresi. “Taruh di meja.” Silla

