Mobil hitam itu meluncur di bawah langit sore yang muram. Jalanan Istanbul tampak licin setelah hujan, dan sinar matahari yang menembus awan kelabu membuat kaca mobil memantulkan warna oranye pucat. Di balik kemudi, Marco menatap lurus ke depan, wajahnya tegang. “Lebih cepat, Marco.” Suara Lucas terdengar rendah tapi menekan. “Sudah semampunya, Tuan,” jawab Marco, tapi tangannya menambah tekanan pada pedal gas. Mobil itu menembus lalu lintas yang padat, membuat klakson bersahut-sahutan di belakang mereka. Lucas duduk di kursi belakang, diam. Tatapannya kosong, tapi napasnya tak beraturan. Begitu mendengar kabar listrik padam di ruang ICU, jantungnya seolah diremas. Dunia seperti menipis di antara pikirannya—karena setiap detik bisa berarti hidup atau mati bagi Allysa. Begitu mobil berh

