Senja telah lama tenggelam di balik perbukitan Istanbul ketika sebuah mobil hitam berhenti di halaman depan mansion megah milik keluarga Eleanor. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di atas dinding batu tua. Dari dalam mobil, Eleanor keluar dengan langkah cepat—gaunku hitam elegannya berkibar pelan tertiup angin, kontras dengan wajahnya yang pucat dan tegang. Ia langsung berjalan melewati koridor panjang, menapaki marmer dingin yang bergema di bawah tumit sepatunya. Setiap langkah terasa berat. Pikirannya dipenuhi satu hal, seharusnya bukan Lucas yang tertembak. Tangannya menggenggam ponsel erat, suara dari seberang terdengar tergesa, “Madam Eleanor, kami sudah bersembunyi di gudang lama dekat pelabuhan. Tidak ada yang mengikuti.” “Pastikan begitu,” ucap Elea

