“Ahh .…” Allysa meringis, tubuhnya gemetar menahan nyeri di punggung dan perut. Luka-luka lebam hasil baku hantam dengan Camillia di restoran tadi siang membuatnya sulit bergerak. Ia mencoba miring di ranjang, tapi justru rasa sakit makin menusuk. Napasnya berat, bulir-bulir keringat dingin bermunculan di pelipis. “Aku tidak bisa terus begini,” gumamnya lirih. Ia memaksakan diri bangun. Dengan langkah tertatih, Allysa keluar kamar, menuruni tangga menuju area dapur. Koridor luas mansion terasa lengang, hanya suara jam antik yang berdetak mengiringi setiap langkahnya. Di ujung lorong, ia bertemu Silla, maid muda yang baru saja selesai membereskan gelas-gelas kristal. “Nona Allysa?” Silla terkejut melihat wajah pucat tuannya itu. “Astaga, Anda kenapa? Wajah Anda benar-benar tidak sehat.”

