Malam itu, langit Istanbul tampak gelap pekat. Lampu-lampu di halaman mansion besar keluarga Alberto menyala redup, memantulkan cahaya ke arah dinding marmer dan pilar tinggi yang menjulang angkuh. Udara malam membawa aroma hujan yang baru saja reda, menambah berat pada suasana yang sudah cukup menegangkan. Lucas berdiri di tengah ruang utama bersama Allysa di sisinya. Tatapan tajamnya menembus seisi ruangan—menyapu Sammer, Eleanor, dan Juliet yang kini sama-sama diam memperhatikan. Ia tahu, setiap dari mereka menyimpan rahasia. Tapi malam ini, Lucas tidak berniat menutupi amarahnya. “Sudah lama sekali, Lucas,” ujar Sammer dengan nada manis tapi penuh kepalsuan. “Kau sepertinya semakin tangguh sekarang. Aku hampir mengira kau tak akan kembali.” Lucas hanya menatapnya tanpa ekspresi.

