mulai turun lembut, menyusupi kamar pengantin yang hanya diterangi cahaya lilin. Tapi tubuh mereka—justru semakin hangat. Semakin menyala. Baby terbaring di atas ranjang, hanya dibalut selembar seprai tipis. Pipinya memerah, rambutnya kusut indah, dan matanya—Tuhan—menyimpan bara yang belum padam. Reigan duduk di tepi ranjang, masih dalam balutan handuk yang sudah setengah lepas dari pinggangnya. Matanya menatap tubuh Baby seolah ingin menghafal setiap jengkal, lagi dan lagi. Seolah malam ini… tak cukup satu kali. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Baby lirih, suaranya serak oleh rintihan yang belum benar-benar usai. Reigan mengusap ujung kaki Baby, lalu naik perlahan ke betis, paha, dan berhenti di pinggang. Ia menunduk dan mencium perut Baby, lalu berbisik: “Karena kamu mili

