Di luar gedung, kilatan lampu jurnalis masih membabi buta, namun kali ini bukan untuk memuja, melainkan untuk menghujat. Septimus keluar dengan kawalan polisi, wajahnya disembunyikan di balik tangan yang kini tak lagi dihiasi jam tangan mewah seharga miliaran rupiah. Tepat di trotoar, ia melihat mobil derek sedang mengangkut mobil sport miliknya. Di sampingnya, Nyonya Desinta menangis meraung-raung saat petugas mengambil tas tangan yang ia genggam erat. "Itu barang pribadiku! Kalian tidak bisa mengambilnya!" teriak Desinta. "Semua yang dibeli dengan dana perusahaan Hartman adalah milik perusahaan, Nyonya," jawab petugas itu tanpa ekspresi. Bella berdiri membeku di samping mereka, tampak lusuh dengan riasan yang hancur. Ia menoleh pada Septimus. "Lalu kita tinggal di mana malam ini? Sep

