Suara notifikasi dari ponsel Bella tak berhenti berdenting. Setiap menit ada ratusan komentar baru yang masuk. Ia membaca dengan jantung berdebar. “Dia pembohong.” “Kalau benar hamil, kenapa baru bicara sekarang?” “Dia mau tenar lewat cara kotor.” Komentar itu menghujam lebih tajam daripada pisau. Tangannya bergetar saat ia menekan layar, membaca kalimat demi kalimat yang membuat darahnya mendidih. Ia berusaha membalas satu, dua komentar, tapi jumlahnya terlalu banyak. Ia tidak bisa melawan semuanya. “Tidak, tidak, ini tidak boleh begini,” gumamnya lirih sambil menatap wajah sendiri di kamera ponsel. “Aku tidak bisa kalah. Aku tidak salah.” Tangisnya pecah. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Matanya bengkak, suara isakannya menggema di apartemen kecil itu. Dalam keputusasaan

