Wanita Pilihan

437 Kata
"Yah, ngapain aku takut. Lagian kamu gak bakalan bisa pisah dari aku, percayalah..." ucapnya penuh percaya diri, dan seketika kapten Ryu terpancing. "Oke. Aku akan milih wanita yang akan aku jadikan yang kedua dan hamil anakku." Tegasnya denagn mata yang merah berkilat penuh amarah yang tertahan. "Heii! Tidak semudah itu!" Carrissa tertawa terkekeh. "Maksud kamu?" "Aku yang akan menentukan wanita mana yang akan kita sewa rahimnya. Bukan kamu yang pilh.." senyum terkulum di bibirnya membuat sang kapten semakin muak. "Kamu kasih aku wnaita tua begitu? Anak itu butuh wanita yang kuat dengan kondisi rahim terbaik!" "Sudah, kamu tenang aja. Yang penting keinginan kamu tercapai dan kita masih suami istri..." ucap Carissa sambil mencium pipi sang suami. "Aku tidak menjamin apapun kedepannya." Tegas kapten Ryu lagi dengan tegas. "Aku yang menulis garis kehidupan kita. Jangan kawatir kamu, Ryu. Sekarang kamu mandi dulu, air mandi kamu udah di siapin..." ucapnya lagi dan terlihat Ryuga melangkah menaiki tangga dan menuju kamarnya. *** Satu minggu setelah keributan besar itu, dan Ryuga sedang melakukan penerbangan Internasional. Pagi itu, Carissa memanggil Pritha ke ruang kerjanya. "Pritha, kamu kerja merawat orang tua suami saya berapa lama?" Tanya Carissa sambil memainkan ponsel dan di hadapannya ada map merah disana. "Ehm, sekitar dua bulan kurang lebih, Bu..." jawab Pritha lagi. "Umur kamu berapa?" Tanya Carissa jutek. "Tahun ini dua puluh lima tahun, Bu." "Tapi, kamu janda, kan?" Tatap Carissa lagi. "Kalau kamu saya ajakin kerja sama kontrak sekitar dua tahun, kamu bersedia?" Tanya Carissa dengan santai. "Tapi, Bu Anindya kasihan, beliau mulai memperlihatkan perkembangan, Bu..." "Tenang saja. Kamu tetap bisa merawat wanita jompo itu..." tegas Carissa. "Intinya kamu double job, dan dapet dua gaji dengan kerjaan yang ringan. Artinya kamu cuma nambah satu orang aja lagi yang harus di rawat." Tegas Carissa membuat Pritha berbinar. "Ohh, jadi saya merawat satu orang lagi, Bu? Lansia juga?" Tanya Pritha dengan mimik wajah sumringah. "Hmm, bukan lansia. Masih muda. Kamu cuma melayani dia aja dengan baik, dan menuruti semua keinginanya, gimana?" Tanya Carissa lagi. "Kalau memang ibu ngizinin saya mah sangat bersedia banget, Bu. Lumayan banget bisa dapet double gaji." Tegasnya lagi tak menyangka jika wnaita yang selama ini jutek padanya ternyata sangat baik sekali. "Yaudah kalau kamu setuju, tanda tangani surat perjanjian kontrak ini. Stempel jari juga ya?" Ucap Carissa lagi dan dengan semangat Pritha membuka map merah hendak membaca. "Sudah, buruan tanda tangan, saya mau syuting lagi ini..." jawab Carissa ketus dan seketika Pritha mengangguk sambil menanda tangani surat yang tebal itu. "Sudah, Bu..." jawabnya menyodorkan kepada Carissa yang langsung tersenyum. "Oke. Artinya apapun yang terjadi, kamu harus patuh pada isi kontrak. Paham?" Tegasnya dengan suara lantang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN