Nikah Kontrak

419 Kata
"Harusnya ga perlu pakai kontrak segala, Bu. Waktu saya merawat bu Anindya juga gak pake surat." Tegas Pritha lagi dan seketika Carissa bangkit sambil membawa map. Sehari setelah penanda tangannan surat, Carissa memanggil Pritha. "Ada apa, Bu?" "Kamu ikut saya setelah ini..." "Loh, mau kemana, Bu?" "Beli baju nikah kamu." "Nikah? Siapa yang nikah, Bu?" Tanya Pritha bingung. "Ya kamu lah, Bego! Siapa lagi? Ya kali aku!" Ketusnya. "Saya belum niat nikah, Bu. Saya masih mau fokus nyari duit dulu, lagian calon nya belum ada juga. Dan saya masih trauma dengan pernikahan." Tegas Pritha membuat Carissa mendekat dan menekan kepala Pritha. "Heh! Kalau gua suruh ya kerjakan aja! Jelas-jelas kamu yang tanda tangani surat perjanjian, kenapa kamu malah ngelak sekarang?" Geram Carissa lagi. "Tanda tangan perjanjian, Bu? Yang mana?" Pritha memikirkan kembali perjanjian mana yang sudah dia tanda tangani. "Yang kemarin, Bu? Bukankah kemarin merawat alias kerjaan tambahan, Bu?" "Ya emang cuma pekerjaan tambahan. Tapi, masalahnya suamiku tidak mau kalau tidak menikah secara siri." Tegasnya lagi dengan wajah kesal. "Maksudnya bu? Kok bapak tidak mau kalau tidak nikah siri?" Wajah Pritha semakin terlihat kebingungan. "Udah gini deh simple nya. Aku gak pengen hamil dan melahirkan anak, sedangkan wanita tua itu pengen punya cucu dan Ryu tidak mau adopsi, alhasil kami pinjem alias sewa rahim kamu buat hamil dan melahirkan anak Ryu. Setelah itu kamu pisah. Simple!" "Bu! Tidak semudah itu, Bu. Kenapa ibu jadi anggap ini main-main. Pernikahan tidak bisa di permainkan, Bu..." geram Pritha lagi. "Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas surat perjanjian itu sudah ada di tangan pengacara saya." Tegasnya lagi. "Maaf, Bu. Saya harus batalkan perjanjian itu. Saya tidak mungkin menikah kontrak dengan bapak." Tegas Pritha lagi dengan wajah melawan. PLAK! Sebuah tamparan melayang menghiasi wajahnya. "Heh! Kampung! Jangan pikir kamu itu merasa hebat. Kamu itu cuma wanita miskin dari kampung. Jangn mikir bisa menang melwan saya!!" "Tapi, Bu. Mana mungkin bapak juga setuju, Bu. Saya mohon batalkan perjanjian ini, Bu. Tidak mungkin ada pernikahan siri di antara saya dan bapak. Saya tidak mungkin merusak rumah tangga ibu dan bapak, apalagi bapak orangnya baik banget." Tegas Pritha lagi. "Hheh! t***l! Siapa juga yang nyuruh kamu ngerusak rumah tangga aku. Kamu itu cuma mesin untuk pencetak anak, tidak lebih! Jadi jangan mimpi buat dapetin perhatian suamiku!" "Tetap bu, saya milih batalin kontrak saja bu, dan ganti rugi..." tegas Prittha lagi dengan wajah tegang. "Yakin kamu mampu membayar ganti rugi?" Tantang Carissa lagi, lalu dia merogoh ponselnya dan mencari file PDF tentang surat perjanjian kontrak tersebut. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN