Ruang kamar mandi utama di Penthouse Pradipta itu hening, hanya terdengar suara tetesan air dari keran wastafel berlapis emas yang belum tertutup rapat. Ubin marmer Italia yang dingin menyerap panas tubuh Aira, yang kini duduk meringkuk di atas tutup kloset dengan tubuh gemetar hebat. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah benda plastik kecil berwarna putih. Benda yang harganya tidak seberapa dibandingkan kemewahan di sekelilingnya, namun nilainya saat ini melebihi seluruh aset perusahaan suaminya. Aira memejamkan mata, merapal doa tanpa suara. Ia takut melihatnya. Ia takut harapan itu hancur lagi seperti bulan-bulan sebelumnya. Ia takut ini hanya delusi akibat obat-obatan Elena. "Satu... dua... tiga..." bisiknya parau. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Dunia seakan berhenti berpu

