Kita harus USG.

1921 Kata

Suara tolakan dari dasar perut yang bergejolak itu memecah keheningan fajar di penthouse Pradipta. Aira mencengkeram erat tepi wastafel marmer, buku-buku jarinya memutih. Kepalanya menunduk dalam, membiarkan sisa cairan asam lambung yang pahit mengalir ke lubang pembuangan berlapis krom. Nafasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, menempelkan beberapa helai rambut ke kulitnya yang sepucat pualam. Tiba-tiba, sebuah telapak tangan yang besar dan hangat mendarat di tengkuknya. Jari-jari kokoh itu mulai memijat pangkal leher Aira dengan gerakan melingkar yang presisi, mengurai otot-otot yang tegang akibat kontraksi perut yang menyiksa. Sentuhan itu sangat menenangkan, namun aura pria yang berdiri di belakangnya terasa sedin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN