Suara tolakan dari dasar perut yang bergejolak itu memecah keheningan fajar di penthouse Pradipta. Aira mencengkeram erat tepi wastafel marmer, buku-buku jarinya memutih. Kepalanya menunduk dalam, membiarkan sisa cairan asam lambung yang pahit mengalir ke lubang pembuangan berlapis krom. Nafasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, menempelkan beberapa helai rambut ke kulitnya yang sepucat pualam. Tiba-tiba, sebuah telapak tangan yang besar dan hangat mendarat di tengkuknya. Jari-jari kokoh itu mulai memijat pangkal leher Aira dengan gerakan melingkar yang presisi, mengurai otot-otot yang tegang akibat kontraksi perut yang menyiksa. Sentuhan itu sangat menenangkan, namun aura pria yang berdiri di belakangnya terasa sedin

