Kau harus Menikah dengan…

1912 Kata

Tawa itu meledak. Bukan tawa hangat seorang kakek yang baru saja menemukan cucunya yang hilang, melainkan tawa serak, berat, dan luar biasa angkuh dari seorang tiran yang baru saja memenangkan perang semesta. Suara Haryo Cakradara menggema di setiap sudut ruang kerja berdinding mahoni tersebut, memantul di antara rak-rak buku kuno dan guci porselen Dinasti Qing, menciptakan resonansi yang memekakkan telinga. Haryo terbahak puas. Kepalanya menengadah, membiarkan asap cerutu mengepul liar di udara. Ia memukul meja kayunya pelan dengan telapak tangan, sebuah gestur kemenangan absolut yang sudah lama tidak ia tunjukkan kepada siapa pun. Di seberang meja, Bastian Elvano duduk mematung. Wajah pucatnya sama sekali tidak menunjukkan emosi. Ia membiarkan pria tua itu merayakan ilusi kemenangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN