Hari-hari di Penthouse Pradipta bergulir dengan ritme yang menipu. Permukaan air tampak tenang, memantulkan citra keluarga bahagia yang sempurna, namun di kedalaman yang tak terlihat, arus deras sedang bergerak, menyeret para penghuninya menuju pusaran takdir yang baru. Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang biasanya terik, jatuh dengan lembut di meja makan marmer hitam. Aira duduk di tempat biasanya, mengenakan gaun rumah berwarna persik yang membuat kulit pucatnya terlihat sedikit lebih merona. Di hadapannya, sepiring buah potong segar dan segelas air mineral tertata rapi. Bastian duduk di ujung meja, kemeja kerjanya digulung hingga siku, menampilkan lengan kekar yang sibuk memotong steak untuk sarapannya. Pria itu sesekali melirik istrinya, memastikan Aira menghabiskan setiap gigitan n

