"Apa? Kau bilang apa tadi?" Jasson mengerutkan kening, mengira telinganya sedang bermasalah akibat hantaman di kantor polisi. Detik berikutnya, sebuah tawa pendek, serak, dan penuh ketidakpercayaan lolos dari bibir Jasson yang lebam. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit apartemen sambil menggelengkan kepala pelan. "Hanami... kepalamu tadi terbentur aspal pelabuhan juga, ya? Atau kau sedang demam?" Jasson tertawa lagi, kali ini lebih lepas meski sudut bibirnya berdenyut nyeri. "Kau tidak perlu merasa tertekan. Aku bisa menjelaskan pada Papa nanti." “Memangnya aku terlihat seperti tertekan?" Jasson mengerutkan keningnya. “Ini menikah, Hanami. Bukankah dulu kau menolak?" Ia masih ingat betul betapa muaknya Hanami dulu saat ajakan menikah itu muncul. Wajah Hanami ya

