Hanami meletakkan garpunya dengan perlahan. Suara denting logam yang beradu dengan piring marmer itu seolah menjadi penanda bahwa obrolan santai mereka harus beralih ke arah yang lebih serius. Ia menatap Jasson yang masih asyik dengan potongan dagingnya—tampak begitu tenang, seolah tidak memiliki beban apa pun setelah rentetan kejadian panas yang mereka lalui pagi tadi. “Setelah cuti ini selesai, kau benar-benar akan kembali ke rumah utama?” tanya Hanami, suaranya sedikit bergetar, mencari kepastian di balik tatapan mata hazel suaminya. Jasson menghentikan kunyahannya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi rotan, membiarkan bathrobe hitamnya tersingkap sedikit lagi, menampakkan lebam kecil di bahunya, bekas cengkeraman kuku Hanami tadi pagi. Ia menatap Hanami dengan intens. "Kenapa? Kau

