Hari kedua di rumah sakit terasa seperti sebuah sekapan sunyi di dalam kotak kaca yang retak. Bagi Jasson, dunia luar belum menjadi prioritas meski kepalanya sangat berisik. Ia secara sadar menarik diri, memutus akses dari peradaban hanya untuk menjadi benteng bagi satu wanita yang kini tampak begitu rapuh di atas brankar. Kondisi Hanami belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Tubuhnya yang mungil kini menjadi medan tempur antara sisa trauma dan rasa sakit pasca melahirkan yang memicu demam tinggi. Wajahnya yang biasa tenang dengan binar cerdas mahasiswi Sastra, kini layu—pucat pasi dengan semburat merah yang tidak sehat di kedua tulang pipinya. Napasnya pendek-pedek, berat, dan setiap kali ia mencoba bergerak, rintihan halus lolos dari bibirnya yang pecah-pecah karena nyeri jahitan yang t

