"Jasson... kenapa itu? Kenapa anakku ditutup matanya?" suara Hanami pecah, bukan lagi rintihan kesakitan fisik, melainkan pekikan ngeri seorang ibu yang melihat anaknya seperti sedang diisolasi dari dunia. Jasson tidak menjawab. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menurunkan Hanami dengan sangat hati-hati, membiarkan istrinya bertumpu pada lengannya yang kokoh agar tidak jatuh. Hanami menempelkan kedua telapak tangannya ke kaca yang dingin, matanya yang sembap mengikuti setiap inci tubuh mungil Axe yang kini telanjang, hanya mengenakan popok dan kain hitam yang menutupi matanya di bawah sorotan lampu biru pekat. "Axe... dia pasti kepanasan di sana. Jasson, dia sendirian! Kenapa tidak ada yang memeluknya?" Hanami mulai terisak hebat, tubuhnya gemetar melawan rasa

