“Kau… sudah mengisi formulirnya?” Jasson mengulang kalimat itu. Suaranya datar, tanpa nada, seperti mesin yang kehabisan oli. Hanami mengangguk, masih dengan senyum yang menurut Jasson terlihat sangat mengerikan di tengah kondisi mental mereka yang sedang compang-camping. “Iya, Jasson. Ini kesempatanku. Aku tidak mau selamanya jadi istri yang menyedihkan. Aku mau punya identitas. Aku mau hebat untuk Axe. Kau mengerti, kan?” Jasson tidak menjawab. Ia justru memalingkan wajah, menatap boks bayi Axe yang terletak tak jauh dari sofa baca. Di sana, bayi empat bulan itu sedang terlelap, jari-jari mungilnya sesekali bergerak dalam mimpi. Napas Axe yang teratur menjadi satu-satunya melodi kehidupan di ruangan yang mulai terasa mati itu. Tiba-tiba, Jasson tertawa. Bukan tawa bahagia, melainkan

