Dua minggu telah berlalu. Empat belas hari yang bagi Hanami terasa seperti ribuan tahun yang merayap lambat. Akhirnya, hari yang dinanti itu tiba—Axe diizinkan pulang. Kamar bayi yang telah disiapkan dengan begitu teliti oleh Mama Serena tidak lagi sunyi. Pendar lampu biru dari unit NICU yang dingin kini telah berganti dengan lampu tidur temaram berbentuk bulan yang membiaskan cahaya kuning lembut ke seluruh ruangan. Semua keluarga dekat menyambutnya dengan penuh suka cita, mereka berbondong-bondong melihat bayi laki-laki tampan yang kini tubuhnya sudah mulai berisi. Namun, bagi Hanami, kepulangan putra pertamanya justru menjadi gerbang menuju labirin mental yang jauh lebih gelap. Setelah semua keluarga pulang, Hanami berdiri mematung di samping boks bayi Axe. Matanya tertuju pada boto

