"Kamu lagi di mana, Al?" Terdengar suara lembut Windy mengalun di telepon. "Aku di kantor. Kenapa, Win?” "Lagi sibuk nggak? Bisa ketemu nggak hari ini?" "Bisa!!! Bisa!" Alvaro menyahut cepat. "Jam berapa mau ketemu? Sekarang? Aku kan pernah bilang sama kamu, akan selalu ada buat kamu kapan pun kamu butuh." Lihat, bagaimana Alvaro yang bisa sekali memberi makan egonya Windy. Seolah dia benar-benar masih begitu mencintai—menginginkan perempuan itu. Padahal, cintanya kepada perempuan itu sudah menguap begitu saja saat dicampakkan. Mana bisa Alvaro terima ditinggalkan begitu? Tiba-tiba saja? Kenangan akan kebersamaan mereka yang dulu dan bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan perempuan itu kembali memang tak semudah itu dilupakan, tapi rasa sakit hatinya begitu dalam. "Aku lagi sedi

