Mobil melaju cepat menuju Rumah Sakit Pondok Indah karena Darren tidak ingin menunda lebih lama. Setibanya di sana, ia menggenggam tangan Alena yang terasa dingin. Mereka sama-sama gugup dan belum benar-benar percaya dengan apa yang sedang terjadi. Namun di balik rasa tegang itu, kebahagiaan yang besar terus memenuhi hati keduanya. "Tenang, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja," bisiknya saat mereka memasuki lobi utama yang ramai. Jamie, yang sudah dihubungi sejak dari rumah, mengatur appointment Darren dengan dokter kenalannya di sini. "Pak, Bu, Dr. Alan sudah siap di lantai tiga. Beliau sudah menunggu di ruangannya, dan saya sudah mengurus administrasinya juga," lapor Jamie dengan senyum hangat. "Terima kasih, Jamie," ucap Darren singkat. Ia masih tidak terlalu fokus pada hal lain,

