Alena sudah berada di dalam ruang kerja Darren saat pintu kayu mahoni terbuka pelan. Ia berbalik dari jendela besar yang menghadap taman belakang, senyum kecil mengembang di bibirnya saat melihat Darren masuk. Pria itu langsung menutup pintu kembali dengan hati-hati, kunci diputar pelan hingga berbunyi klik kecil. Ruangan yang temaram hanya diterangi lampu meja dan cahaya bulan samar langsung terasa lebih intim. Darren berhenti di ambang, matanya melebar sebentar, kaget yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Penampilan santainya serta rambut yang sedikit acak-acakan karena seharian bermain dengan Kaelo. “Sayang,” gumamnya, suaranya rendah tapi ada nada tegang yang terselip, “kenapa kamu nggak bilang dulu kalau mau datang?” Alena melangkah mendekat, high heels-nya berderit pelan di la

