Rumah keluarga Sonya yang biasanya tenang dan terjaga citranya berubah menjadi medan pertempuran emosi yang tak terduga. Darren mengemudikan mobilnya sendiri, Keandre duduk kaku di kursi penumpang dengan wajah pucat, tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Sonya menunggu di ruang tamu rumah orangtuanya, duduk di sofa dengan tangan memegang perut yang masih rata, mata gelisah menatap pintu setiap beberapa detik. Begitu bel berbunyi, ayah Sonya—pria paruh baya dengan kacamata tebal dan sikap selalu tegas—membuka pintu. Wajahnya langsung berkerut saat melihat Darren dan Keandre berdiri di ambang. “Maaf, bapak siapa dan ada apa ini?” tanyanya dengan curiga dan agak heran kenapa ada Keandre dan siapa satu lagi yang bersamanya itu. Darren mengangguk sopan, tangannya berjabat dengan a

