Pagi itu, udara Jakarta masih lembap sisa hujan semalam. Jalanan depan rumah Elang sudah mulai ramai dengan suara klakson bersahutan. Di ruang makan, Jayne duduk dengan secangkir teh hangat di depan meja. Tangannya menggenggam cangkir itu erat, seolah mencari kehangatan untuk menenangkan hati. Elang duduk di sampingnya, tatapannya penuh ketegasan sekaligus sayang. “Kamu sudah sejauh ini, Jayne. Jangan biarkan Reno merasa dia menang hanya karena kamu tampak lemah. Hari ini … aku yakin, kebenaran akan mulai kelihatan jelas.” Jayne menunduk, lalu mengangguk kecil. Ia tahu Elang tak sekadar berkata untuk menenangkannya. Ada keyakinan tulus di balik kata-kata itu. Dan ia butuh keyakinan itu untuk bertahan. Jordan muncul dari pintu ruang tengah sambil merapikan jas hitamnya. Wajahnya serius,

