Setelah ronde pertama yang membara di sofa, Jayne dan Elang perlahan menenangkan napas mereka. Tubuh mereka masih saling menempel, kulit terasa hangat dari kontak sebelumnya. Namun hasrat yang tersisa terlalu kuat untuk diabaikan. Tatapan mereka bertemu, penuh pengertian—dan keinginan untuk lanjut. “Lang … aku … aku merasa belum puas,” bisik Jayne, suaranya bergetar meski masih terkontrol. “Aku … aku ingin lebih ….” Elang tersenyum tipis, matanya gelap dan penuh gairah. “Aku juga, Jane. Tapi kali ini … kita pindah ke kamar. Di sana … kamu bisa bebas, aku bisa bebas … tanpa khawatir terdengar Ranu atau Kayla.” Jayne menelan ludah, hatinya berdebar sekaligus lega. Mereka bergerak perlahan ke kamar Jayne, menutup pintu rapat di belakang, memastikan suasana benar-benar aman. Lampu malam yan

