Putusan Hakim.

1955 Kata

Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung seolah ikut menanggung beban berat yang akan diputuskan hari ini. Jalanan di depan pengadilan sudah dipenuhi oleh wartawan, aktivis perempuan, serta warga yang penasaran dengan akhir dari perkara besar keluarga Hartono. Kamera televisi berderet rapi, lensa-lensa mengintai setiap kendaraan yang berhenti di depan gerbang. Jayne turun dari mobil hitam sederhana yang dikendarai Elang. Tangannya sedikit gemetar, tapi genggaman Elang yang mantap di bahunya membuat napasnya lebih teratur. Jayden berjalan di belakang mereka, sesekali berkomunikasi lewat telepon dengan timnya untuk memastikan keamanan. “Jayne, sebentar lagi selesai. Tahan sebentar saja,” bisik Elang lembut. Jayne hanya mengangguk. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi hari ini.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN