Raya menghembuskan napas berat, amarah dan kecewa berputar liar dalam dadanya. Sikap Nathan yang terang-terangan menyakiti hatinya adalah duri yang menusuk lebih dalam daripada kata-kata kasar. Namun, ada sesuatu yang lebih menggerogoti: pengakuan Nathan yang menggantung dalam benaknya, membangkitkan rasa penasaran dan api ingin membuktikan kebenarannya. Ketika jam kantor usai, Raya tak membuang waktu. Matanya membulat saat melihat Aluna yang tengah sendiri, kesempatan itu seolah disediakan semesta untuknya. "Kamu, Aluna, ya?" Suaranya pecah sedikit, membuat Aluna terkejut dan menatapnya waspada. "Iya ... ada apa? Mbak butuh sesuatu?" tanya Aluna, suaranya hati-hati. Raya menahan gelombang emosi yang bergejolak, mencoba menyusun kata. "Oh, tidak. Aku cuma mau bicara sama kamu, sebentar

