Bab 03. Berpura-pura Tidak Mengenal

1096 Kata
Aluna terpaku sejenak sebelum gelas di tangannya terlepas jatuh, pecah berhamburan dengan suara nyaring yang membelah keheningan. Jantungnya seketika tercekat, CEO itu menatap tajam, langkah kaki cepat menghampirinya. "Ma-maaf, Pak. Saya … tidak sengaja." Suaranya gugup dan bergetar, langsung menunduk seraya meraih pecahan kaca itu. Namun tangannya malah terluka, darah merah segar merembes. Pria itu langsung menangkap tangan Aluna dengan lembut. Entah mengapa, hal itu membuat jantung Aluna berdetak tak karuan, seolah ingin lepas dari rongganya. "Duh, ini gawat .... Kenapa dia bisa muncul di sini, setelah sekian lama?" pikir Aluna dalam hati. Panik, tubuhnya menggigil kedinginan. "Kamu jangan memakai tangan untuk membersihkan kaca," kata sang CEO dengan nada datar tapi penuh perhatian. "Ambil sapu atau alat lain." Aluna tersentak, dia menatap pria itu dengan rasa terima kasih yang dalam, napasnya bergetar saat ia mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak." Hatinya bergelora, antara rasa takut dan sesuatu yang sulit dijelaskan. "Ya. Sebelumnya, obati dulu jarimu. Setelah itu, baru kamu bersihkan pecahan kaca ini." Pria itu mengingatkan dengan tegas. Aluna hanya mengangguk tanpa berkata, lalu dengan langkah tergesa ia meninggalkan ruang CEO, bergegas mencari alat kebersihan. Di belakang Aluna, pria itu tersenyum tipis sebelum kembali duduk di singgasana kekuasaannya, seolah tak terganggu oleh kepergian petugas kebersihan. "Siapa sebenarnya pria itu? Apa mungkin, dia sosok yang sama dengan lima tahun yang lalu? Tapi yang aku ingat, dia yang sangat menyeramkan dan pasti memiliki identitas yang jauh berbeda. Kenapa sekarang malah menjadi CEO di perusahaan ini?" Gumam Aluna dalam hati, benaknya dipenuhi tanda tanya yang menyesakkan. "Ah, Aluna. Jangan terlalu sok tahu. Kamu bahkan nggak benar-benar mengenal dia." Suara hatinya memaksa agar ia berhenti menerka. "Mungkin, pria itu memang CEO dan aku yang nggak tahu apa-apa." Tiba-tiba, langkah Aluna terhenti saat seorang wanita paruh baya muncul di depannya. Kepala OB itu menatap Aluna penuh perhatian dan sedikit khawatir, "Aluna, apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa jari kamu terluka?" Aluna menunduk, d**a berdebar. "Maaf, Bu Tika. Baru hari pertama bekerja, tapi saya sudah membuat kesalahan." Suaranya lirih, penuh penyesalan yang menggulung seperti ombak yang tak berhenti di lautan hatinya. "Kesalahan? Memangnya, apa yang sudah kamu lakukan?" Tika menatap Aluna dengan mata yang penuh kekhawatiran sekaligus penasaran. "Tadi … saya tersandung di depan pintu ruang CEO. Saya menjatuhkan gelas dan pecahannya berserakan di lantai. Waktu saya berusaha memungutnya, jari saya malah terkena kaca dan terluka." Aluna menjelaskan dengan suara bergetar, berusaha menutupi kebenaran sebenarnya. Dia terpaksa berbohong, karena tak sanggup mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Tika menghela napas panjang. "Aduh … Aluna. Kenapa kamu bisa seceroboh itu? Semua karyawan di sini tahu, Pak Ares sangat membenci kecerobohan. Tapi saya janji, saya akan bicara ke Pak Ares supaya kamu tidak dipecat," ujarnya, berusaha menenangkan temannya dengan suara lembut yang menyiratkan harapan. Kata-kata Tika menusuk Aluna sampai ke relung hati. "Apa Pak Ares benar-benar seperti itu?" gumamnya dalam hati. Namun, ingatannya mengambang pada sosok sang CEO yang tadi terlihat begitu perhatian, begitu berbeda dari apa yang dikatakan rekan kerjanya itu. "Atau, jangan-jangan … itu cuma topeng. Ya, bisa saja Pak Ares berpura-pura baik sebelum aku dipecat?" Dalam diam, Aluna menelan air liurnya, perasaan takut dan bingung berkecamuk. "Aku harus berbuat apa sekarang? Aku nggak boleh kehilangan pekerjaan ini. Cari kerja di sini nggak gampang. Apalagi, aku juga nggak boleh mengecewakan Nathan." Hatinya seperti terkoyak, berharap segenggam keberuntungan tetap tersisa di sisinya, menuntunnya melewati badai yang baru saja dimulai. "Aluna, kenapa kamu malah melamun? Kamu tenang saja, ya. Walaupun seperti itu, Pak Ares tetap masih punya hati. Sekarang, saya bantu obati luka kamu dulu, ya. Setelah itu kita langsung ke ruangan CEO untuk membersihkan pecahan gelas itu. Saya akan membantu kamu untuk menjelaskan kepada Pak Ares. Saya janji," kata Tika, tersenyum lembut. Aluna mengangguk pelan. "Iya, Bu. Terima kasih banyak, ya," ucapnya, merasa sangat bersyukur memiliki rekan kerja sebaik Tika. *** Ruangan CEO terasa semakin dingin saat Aluna dan Tika melangkah masuk. Tika buru-buru menjelaskan siapa Aluna sebenarnya, seorang petugas kebersihan baru, sekaligus memohon maaf atas kecerobohan yang terjadi. Sebagai kepala OB, Tika merasa beban tanggung jawab menyesak dadanya, seolah dunia runtuh di pundaknya. Ares Damian Lords, dengan tatapan dingin bak elang pemangsa, menyela dengan suara yang menusuk, "Lebih baik kamu pergi sekarang dan bawa pecahan kaca itu. Suruh OB baru itu langsung menghadap saya." Tika mengangguk cepat. Lalu segera menyampaikan pesan itu pada Aluna. Dia menatap dengan mata yang penuh waspada dan sedikit iba. Dengan langkah gemetar, Aluna maju. Setiap detik seolah mematri ketakutan di wajahnya, seperti berada di hadapan harimau lapar yang siap menerkam mangsanya. "Kamu cleaning service baru di sini?" Suara Ares dingin, penuh was-was dan ketegasan. "Iya, Pak. Nama saya, Aluna," jawab Aluna pelan, suaranya nyaris tercekat. "Saya benar-benar minta maaf, Pak, atas kesalahan saya di hari pertama kerja, bahkan tugas pertama saya. Tapi saya janji, saya akan memperbaiki semuanya. Tolong, jangan pecat saya, Pak." Kata-katanya terbungkus kepanikan, harapan dan rasa takut yang terpancar jelas dari mata beningnya. Sebuah permohonan yang menggantung, menunggu vonis dari pria di depannya yang seolah memegang nyawa masa depannya. Ares tak menjawab, dia beranjak dari kursi kebesarannya lalu mendekati Aluna, mencengkeram dagu Aluna dengan erat dan menatap wanita itu dengan tajam. "Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Jantung Aluna lagi-lagi berdetak tak karuan. "Bagaimana ini? Apa Pak Ares benar-benar nggak ingat aku sama sekali? Atau mungkin aku yang salah orang?" batinnya. Dengan sangat gugup, Aluna mencoba menjawab, "Ti-tidak, Pak. Mana mungkin kita pernah bertemu sebelumnya. Saya saja baru datang dari luar kota." "Lalu, kenapa kamu terlihat ketakutan seperti itu saat menatap saya? Padahal saya sama sekali tidak berniat menyakitimu, apalagi menelanmu hidup-hidup walaupun sebenarnya saya bisa karena kesalahanmu. Mungkin Bu Tika sudah memberi tahu kamu betapa saya membenci kecerobohan. Tapi, saya memberi kamu satu kesempatan terakhir. Ingat baik-baik, jika kamu kembali membuat kesalahan, saya pastikan langkahmu akan berhenti di sini dan kamu tidak akan pernah menginjakkan kaki di perusahaan ini lagi!" Ucapannya begitu dingin, nyaris seperti petir yang membelah langit kelam. Tangan Ares yang sebelumnya mencengkeram dagu Aluna perlahan melepas, tapi ketegasan itu masih membekas seperti bara yang tak kunjung padam. "Terima kasih, Pak." Aluna menjawab dengan suara bergetar, tapi ada sinar lega yang mengintip dari balik keraguan itu. Dia tahu, dirinya belum kehilangan segalanya. Kesempatan itu, walau tipis seolah menjadi napas baru yang menyelamatkannya dari jurang kegagalan. "Keluar sekarang dan buatkan kopi yang baru untuk saya. Jangan sampai ada kesalahan lagi," perintah Ares menggantung berat di udara. "Baik, Pak. Akan segera saya lakukan," jawab Aluna, langkahnya tergesa tapi hatinya berdetak penuh harap. Sementara Ares tersenyum sinis, batinnya berbisik, "Akhirnya, aku menemukanmu lagi. Tapi baiklah, aku akan mengikutimu, bermain dalam sandiwaramu ini. Berpura-pura tidak mengenal." Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN