Ares meraih ponsel di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu tanpa banyak basa-basi menghubungi seseorang.
"Aku sudah menemukannya. Saat ini, aku punya tugas penting lain untukmu!"
Suaranya dingin dan tegas, seolah memotong ruang yang sunyi itu. Dengan nada yang tak bisa ditawar, panggilan telepon tiba-tiba diputuskan tanpa sepatah kata pun.
Tak lama kemudian, Aluna kembali memasuki ruangan, membawa segelas kopi yang masih mengepul. Matanya penuh kecemasan, berusaha memastikan semuanya berjalan lancar.
Dia menaruh gelas itu perlahan di atas meja. "Silakan diminum, Pak," ucap Aluna dengan suara pelan, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Hem," jawab Ares singkat, tanpa menatap kopi di depannya.
Aluna menundukkan kepala penuh hormat, bersiap pergi. Namun, langkahnya terhenti saat suara Ares menghentikannya, dingin dan tajam.
"Kamu mau ke mana? Siapa yang bisa menjamin, kopi ini tidak beracun?" ujar pria itu, santai tapi menusuk.
Aluna terdiam seketika, tubuhnya membeku seperti tersambar petir. Bagaimana mungkin bosnya, yang bahkan belum mengenal siapa dirinya, malah menaruh kecurigaan seperti itu padanya?
Dengan suara bergetar, Aluna mencoba membela diri, "Maaf, Pak Ares. Mana mungkin saya berani meracuni Bapak. Saya masih mau bekerja di sini, bukan mencari mati."
Udara di antara mereka berubah menjadi medan peperangan sunyi, kecurigaan dan harapan yang saling bertabrakan tanpa kata-kata yang meledak. Aluna tahu, kepercayaan retak bahkan sebelum dibangun dan langkahnya ke depan terasa begitu berat.
"Siapa yang bisa percaya begitu saja, kalau kamu tidak menyimpan dendam kepada saya?" Suara Ares menusuk, seperti pisau yang diayun perlahan tapi pasti.
Aluna mengerutkan dahi, berusaha menepis tuduhan itu. "Kenapa saya harus dendam, Pak?" tanyanya pelan, suaranya bergetar sedikit. "Bapak tidak memecat saya. Justru, saya sangat berterima kasih."
"Tetap diam di sana!" titah Ares dengan nada tegas.
Aluna menunduk, gugup tapi tak berani membantah.
Sementara Ares segera menyeruput kopinya tanpa ekspresi berlebihan, lalu tatapannya tajam membidik Aluna. "Siapa yang mengajarkanmu meracik kopi seperti ini?" tanyanya dingin.
"Maaf, Pak, kalau rasanya belum sesuai harapan. Tapi, saya pastikan sudah mengikuti semua arahan Bu Tika, tentang kopi kesukaan Bapak. Gula, kopi, takarannya … semua sudah saya ikuti." Suara Aluna terdengar lemah, wajahnya mendadak pucat.
Akan tetapi, Ares malah tersenyum tipis, nada suaranya tiba-tiba berubah, "Ternyata, kamu belajar dengan cepat. Bagus dan pertahankan!"
Mata Aluna membesar, tak menyangka. "Maksud Bapak? Bapak suka kopi buatan saya?" tanyanya, ingin memastikan kebenaran.
"Ya. Lumayan lah," jawab Ares sambil menatap misterius. "Tapi, seharusnya kamu bisa membuat rasa kopi ini semakin sempurna. Bukankah kamu?" Ucapan terakhirnya menggantung di udara, seperti tantangan yang siap menghancurkan atau membangkitkan semangat dalam diri Aluna.
Hening sejenak. Tekanan dalam ruangan itu seolah menyusutkan waktu.
Hingga Aluna tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. "Kenapa dengan saya, Pak?" Matanya penuh tanda tanya.
Namun, Ares menyahut dengan dingin dan tegas, "Lebih baik kamu keluar dan lanjutkan pekerjaanmu." Sambil mengibaskan tangan, dia menyuruh Aluna segera pergi.
Aluna hanya bisa menghela napas, menelan rasa aneh yang menggelayuti hatinya. "Dasar, bos aneh," batinnya sinis.
***
Detak jam terus berputar, tak terhitung sudah berapa kali Aluna membersihkan lantai yang menjadi jalur keluar-masuk gedung perusahaan. Saat ia tenggelam dalam keseriusan bekerja, sebuah sentuhan lembut tiba-tiba menyentuh pundaknya. Jantung Aluna serasa berhenti sekejap. Ia menoleh, tapi tak ada siapa pun di sana. Napasnya tercekat, namun saat ia kembali menatap ke depan, sosok itu muncul bak hantu dari balik bayangan.
"Ya ampun, Nathan! Untung saja aku nggak punya penyakit jantung. Kalau iya, pasti aku sudah kolaps di sini," keluh Aluna, hatinya berdebar tak karuan.
Nathan terkekeh, menatap Aluna dengan senyum lelah tapi hangat. "Maaf. Kamu juga sih, Lun. Serius banget kerjanya sampai lupa waktu. Lihat jam, ini sudah waktunya istirahat. Memangnya kamu nggak lihat, orang-orang sudah keluar juga. Masa kamu masih di sini. Ayo, sekarang kita makan."
"Iya, aku nggak sadar," jawab Aluna pelan. "Memangnya mau makan di mana?" tanyanya.
Nathan menunjuk restoran di seberang jalan. "Makan di sana saja."
Namun, Aluna menggeleng cepat. "Nggak. Lagi pula, aku bawa bekal kok. Aku harus hemat." Suaranya serak, seolah kata ‘hemat’ itu bukan sekadar kebiasaan, tapi peringatan untuk dirinya sendiri. "Aku baru mulai bekerja. Kebutuhanku dan Leo semakin bertambah."
Nathan menghela napas panjang, menatap wajah Aluna yang terlihat keras menolak. “
"Aluna, kamu jangan terlalu memikirkan soal itu. Rumah kontrakan sudah dibayar selama setahun, jadi jangan pelit-pelit untuk diri sendiri, apalagi soal makanan. Lagi pula, aku yang mau traktir kamu, sebagai perayaan hari pertamamu bekerja di sini."
Aluna merasa tak enak, dia menolak tawaran Nathan dengan lembut. "Nggak usah, Nat. Kamu nggak usah buang-buang uang terus. Aku juga sudah bilang, aku bawa bekal. Aku mau makan di kantin saja. Nanti aku pesan minuman, itu cukup."
Nathan tersenyum getir, menatap Aluna yang kokoh pada keputusannya. "Ya sudah, asalkan kita makan bersama. Aku akan pesan makanan di kantin."
Hening sesaat di antara mereka, namun dalam diam itu, rasa pedih dan perjuangan hidup mengalir tanpa suara. Aluna ingin mandiri, tapi dia tahu, Nathan hanya ingin melindunginya.
Aluna pun setuju, lalu dengan tenang meletakkan alat-alat kebersihan pada tempatnya. Baru setelah itu, mereka melangkah menuju kantin bersama.
*
Di kantin, tiba-tiba suasana berubah tegang saat dua wanita yang sejak tadi menunggu kehadiran Nathan, melihat pria itu berjalan berdampingan dengan Aluna. Mata mereka membara dengan rasa cemburu dan kebencian yang sulit disembunyikan.
"Raya, lihat tuh. Kamu punya saingan baru dan dia cuma seorang OB," ujar Celine, sahabat Raya.
Raya, yang sudah lama menaruh hati pada Nathan tapi tak pernah berhasil mendekati pria itu, menepis perkataan Celine dengan wajah merah padam. "Jangan asal bicara! Dia sama sekali nggak pantas jadi sainganku."
"Tapi kenyataan ada di depan mata, Baby. Nathan selalu menolak kamu, 'kan? Sekarang ini, justru Nathan terlihat dekat banget sama OB itu. Aku yakin, di antara mereka pasti ada sesuatu." Suara Celine berbisik penuh sengketa, menusuk jauh ke dalam hati Raya, membakar api cemburu yang mulai menyala tanpa bisa ditahan.
Dada Raya sesak, darahnya panas membara. Perasaan takut kehilangan dan luka karena penolakan Nathan menggerogoti hatinya. Dunia yang selama ini terasa stabil tiba-tiba goyah karena seorang wanita yang dianggapnya hina berani mengusik ruang yang dia dambakan. Diamnya Raya saat ini menyimpan badai yang tak terlihat. Tak ada satu pun yang mengerti gelapnya niat dalam benaknya saat itu.
*
Ketika hiruk-pikuk kantor kembali pada rutinitasnya setelah jeda istirahat, tanpa sengaja mata Raya tertumbuk pada Aluna yang sedang membersihkan area depan gudang. Senyum sinis merayap di bibirnya, senyum yang mengancam dan penuh dendam. Dengan langkah ringan namun penuh niat jahat, dia mendekati Aluna. Dalam sekejap, dorongan keras darinya membuat wanita itu terjatuh tersungkur ke dalam gudang sempit yang pengap dan berdebu.
Kepanikan langsung merayapi tubuh Aluna. Ia bangkit, berlari menuju pintu yang seharusnya jadi jalan keluar. Namun sialnya, pintu itu telah terkunci rapat.
"Tolong … tolong bebaskan aku! Siapapun … tolong keluarkan aku dari sini!" jerit Aluna, suaranya tercekik dalam kegelapan yang pekat.
Namun, tak ada yang mendengar. Gudang itu membungkam segala harap, udara kian menipis hingga d**a Aluna terasa nyaris meledak. Kelelahan merayap dan tubuhnya perlahan melemah. Hanya bisa terdiam, bersandar pada pintu, Aluna menyerah pada kepedihan yang mencekik, sepi, terperangkap dan tanpa harapan.
Bersambung …