Nathan sengaja datang ke sana, membawa makanan yang sudah ia siapkan dengan penuh harap. Dalam dadanya bergemuruh rindu yang tertahan, mengingat pesan-pesan untuk Aluna yang tak kunjung berbalas. Hatinya mencelos, takut jarak yang tercipta semakin dalam dan harapan untuk memperbaiki semuanya seakan menguap begitu saja. Dia datang bukan hanya untuk membawakan makan malam, tapi untuk memohon maaf, merengkuh kembali kehangatan yang dulu mereka miliki. Nathan ingin meyakinkan diri bahwa masih ada celah kecil untuk memperbaiki kisah yang hampir terkoyak. Namun, apa yang dilihatnya di depan mata justru bagai pisau menusuk hati yang paling rapuh. Ares, Aluna dan Leo – kini berdiri bersama seperti keluarga kecil yang sudah lengkap. Ares yang hangat memeluk Leo, senyum bahagia terpancar di wajah m

