Mika membeku seketika saat nama Aluna meluncur dari bibir kekasihnya. Jantungnya seperti dihantam badai, gelombang ketakutan dan kecemasan menerjang pikirannya. Apakah benar Aluna yang dulu? Atau hanya kebetulan kejam yang mengusik kedamaian hidupnya selama ini? Namun satu hal pasti: bayang-bayang wanita itu kembali menghantui hari-harinya yang pernah tenteram. "Hah? Aluna? Aluna siapa maksud kamu?" Suara Mika bergetar, menuntut jawaban yang bisa meredakan amuk di dalam dadanya. Bryan menatap wanita di depannya dengan sinar dingin, ucapannya santai tapi tajam, "Sudah aku katakan, kamu juga tidak tahu siapa dia. Yang jelas, dia wanita lemah lembut, cantik dan membuatku jatuh cinta — bukan seperti kamu yang murahan!" Kata-kata itu bagai pisau mengiris hati Mika. Luka seketika meletus menj

