Memandang Raya yang terdiam membisu, Nathan merasa bingung. Apakah wanita itu akan menolaknya? Hatinya bergelora, bertanya-tanya dalam diam. Dengan nada lembut yang menyimpan harap, Nathan kembali mengulurkan ajakan, "Ayo, Ray. Atau kamu tidak mau aku antar pulang?" Raya terperangah, tersadar dari lamunannya. "Sebenarnya ... aku sudah pesan taksi online," ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Nathan mengerutkan kening, sorot matanya menyelidik. "Kamu yakin? Tapi, kenapa taksi yang kamu maksud belum datang juga?" Dada Raya berdegup kencang, gelombang perasaan bergolak tanpa bisa dibendung. Sebenarnya, dia belum memesan taksi sama sekali. Kepada Ares dan Aluna ia hanya pura-pura berkata telah memesannya, hanya untuk punya alasan menunggu di depan restoran—menunggu Nathan. Keingin

