Berada di pelukan Nathan untuk pertama kalinya, Raya merasakan kehangatan yang tulus dari pria itu. Hatinya melonjak bahagia, tanpa ragu ia semakin erat memeluk, berharap bisa memelihara momen itu lebih lama. Namun, pelukan yang menghangatkan bagi Raya, justru membuat Nathan risih. Dengan ragu, ia perlahan melepas pelukan tersebut. Raya terkejut, dadanya masih berdetak kencang, berusaha mengatur napasnya. "Maaf, aku nggak bermaksud lancang. Aku hanya syok. Tiba-tiba ada preman mendekat dan mencoba merampok aku. Untung saja kamu muncul tepat waktu. Kamu sudah menyelamatkan aku, Nathan. Terima kasih, ya." Suaranya bergetar, penuh syukur dan lega. Nathan menatap sejenak, lalu membalas, "Sama-sama. Kebetulan aku lewat sini. Sekarang lebih baik kamu lanjutkan perjalananmu dan lebih berhati-h

