13. Kamu Keterlaluan!

2088 Kata
"Ara ... Akhirnya!" Suara ibunya di ujung sana terdengar seperti orang yang baru saja menemukan barang hilang setelah berjam-jam mencari. Lega, tapi juga panik, juga marah, juga khawatir, semua jadi satu. "Seharian Mama sama Papa hubungi kamu gak bisa-bisa, Nak." Suara Wina bergetar. "Kamu di mana? Baik-baik saja, kan? Kenapa sama nomor kamu? Kenapa gak aktif?" Ara tampak mencelos. Telapak tangannya yang bebas meremas ujung kemeja yang ia kenakan. Perasaan bersalah menyergapnya, meskipun ia tahu ini bukan salahnya. Tapi mendengar suara ibunya yang nyaris menangis membuat dadanya terasa sesak. "Maaf, Ma." Ara melirik ke samping, ke arah meja makan di dekat dapur, Dirga duduk di sana. Pria itu tidak melakukan apa-apa, matanya tertuju pada area dapur yang bersih, mungkin sedang berpikir, mungkin hanya sedang tidak ingin diganggu. Ara tidak tahu. Tidak mau tahu. Ia berjalan pelan menuju pintu taman belakang, jari-jarinya mencari pegangan, lalu mendorongnya terbuka. Udara malam yang dingin langsung menyambutnya, menerbangkan beberapa helai rambut yang tergerai di punggungnya. Ara berdiri di teras belakang yang tidak begitu luas, menatap langit malam yang hanya diterangi beberapa bintang redup. "Kami tinggal di perumahan cluster, Ma." Suaranya pelan, seperti takut didengar oleh telinga di dalam rumah. "Tapi aku agak lupa namanya." "Kasih tahu Mama alamatnya, ya, Nak." Suara Wina sekarang sedikit tenang, tapi masih ada getar di ujung kalimat. "Biar Mama bisa ke sana nengokin kamu." "Iya, Ma. Pasti. Nanti habis ini aku shareloc." "Dirga, baik sama kamu?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Wina dengan nada hati-hati. "Dia gak perlakukan kamu jahat, kan?" Ara menoleh ke belakang. Tubuhnya sedikit memutar, cukup untuk melihat ke dalam rumah melalui pintu kaca yang setengah terbuka. Dirga masih di tempat yang sama. Pria itu mengangkat gelas, menyesap air putih, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan gerakan yang lambat, tanpa suara. "Enggak, Ma." Ara membalikkan tubuhnya kembali ke arah taman, punggungnya menghadap ke pintu. Suaranya berusaha terdengar meyakinkan, meskipun di dalam dadanya ada kebohongan yang berat. "Dia ... baik." Baik. Sebuah kata yang terasa hambar di lidahnya. Dirga tidak baik. Dirga dingin, kejam, dan penuh kebencian. Tapi apa gunanya mengatakan itu pada ibunya? Hanya akan membuat khawatir. Papa akan marah. Dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Pernikahan sudah terjadi. Status sudah melekat. Biarlah Ara yang menanggung sendiri kebencian pria itu. Biarlah ia yang berurusan dengan dinginnya tatapan Dirga, dengan kata-kata tajam yang menusuk, dengan perlakuan yang membuatnya merasa seperti tahanan di rumah suaminya sendiri. "Oh, baguslah kalau begitu." Suara Wina terdengar lega. "Mama takut banget kalau dia jahatin kamu, Nak. Makanya dari tadi kami coba hubungi kamu gak bisa-bisa." Ara tertawa kecil. Tawa yang dibuat-buat, tawa yang tidak pernah ia latih sebelumnya. "Aku baik-baik saja, Ma. Jangan khawatir, ya." "Kamu bakal resign?" Pertanyaan itu membuat Ara terdiam. Angin malam bertiup lagi, membuat tubuhnya sedikit menggigil. Ia membayangkan masuk ke kantor besok, atau minggu depan, atau kapan pun. Membayangkan tatapan rekan-rekan kerjanya yang sudah tahu, atau setidaknya sudah mendengar gosip itu. Dia, lho, yang hampir jadi istri kedua. Atau lebih buruk, Dia, lho, yang dinikahi paksa sama adik ipar pacarnya. Dan Zaki. Zaki masih di sana. Zaki yang akan ia temui setiap hari jika ia kembali. Zaki yang membuatnya muak, tapi juga Zaki yang meninggalkan luka yang belum sempat ia obati. "Iya, Ma." Suara Ara lirih. "Aku malu kalau harus balik kerja." "Mama ngerti, Ra. Tenangin diri aja dulu sampai semua kondusif." Suara Wina terdengar sendu. Nada seorang ibu yang ingin melindungi anaknya tapi tidak tahu caranya karena jarak dan ada Dirga yang menghalangi. "Jangan dipikirkan ya, semua ini pasti berlalu, fokus saja pada pernikahan kamu. Kalau ada apa-apa, kasih kabar Mama dan Papa, biar kami bantu." Fokus saja pada pernikahan kamu. Ara hampir tertawa pahit mendengar itu. Pernikahan apa yang harus ia fokuskan? Pernikahan yang terasa seperti penjara? Pernikahan dengan pria yang membencinya? Pernikahan yang tidak pernah ia minta? "Iya, Ma. Pasti." "Mama sayang kamu, Nak." "Ara juga sayang Mama. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Panggilan telepon itu berakhir. Ara menurunkan ponsel dari telinga, layarnya masih menyala sebentar sebelum redup. Ia menatap wallpaper ponselnya yang masih bawaan pabrik. Ara menarik napas panjang, menghirup udara malam yang dingin, berusaha menenangkan denyut jantung yang masih berdebar karena mendengar suara ibunya. Ia berbalik. Pintu kaca geser masih terbuka setengah. Ia melangkah masuk, kakinya yang masih telanjang menyentuh lantai marmer dingin. Setiap langkah mengeluarkan suara kecil. Di ruang makan, Dirga masih duduk di kursinya. Pria itu tidak bergerak. Tidak menoleh. Matanya masih tertuju pada area dapur yang bersih, meskipun tidak ada yang menarik di sana. Mungkin ia sedang berpikir. Mungkin ia hanya sedang tidak ingin melihat Ara. Ara menghampirinya. Langkahnya tidak ragu, tidak takut, setidaknya ia berusaha untuk tidak terlihat takut. Ia menarik kursi di seberang Dirga, dan duduk di sana, tangannya meletakkan ponsel di atas meja. Di atas meja, hanya ada gelas kosong milik Dirga dan ponsel baru Ara yang masih mengilap. Tidak ada makanan. Tidak ada yang lain. Ara menatap Dirga. Pria itu masih belum menatapnya balik. "Kamu apain ponsel aku? Tas aku juga?" tanya Ara. Suaranya datar, berusaha tenang. "Kemanain barang-barang aku?" Dirga menolehkan kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Ara, singkat, sekilas, lalu kembali menatap ke dapur. "Aku buang." Dua kata. Datar. Tanpa emosi. Seperti ia sedang mengatakan bahwa hari ini akan turun hujan. Sepasang mata Ara terbelalak. Mulutnya setengah terbuka, tapi kata-kata belum keluar. Ia menatap Dirga, mencari tanda-tanda bahwa pria itu bercanda. Tapi tidak ada. Wajah Dirga serius. Dingin. Tidak ada sedikit pun kerutan di dahi yang menandakan ia sedang berbohong. "Bohong!" Ara hampir berteriak. Tangannya mengepal di atas meja. "Gak mungkin kamu buang begitu saja." "Untuk apa saya bohong." Dirga balik menatapnya. Matanya tidak berkedip. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan. Hanya keyakinan bahwa apa yang ia lakukan adalah benar. "Semua itu penting buat aku!" Suara Ara meninggi. Ia tidak bisa lagi menahan emosi yang menggelegak sejak tadi, sejak mendengar suara ibunya, sejak mengaku berbohong bahwa Dirga baik, sejak menyadari bahwa ia tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Ia berdiri dari kursi. Kaki kursi bergeser di lantai marmer dengan suara keras yang menggema di ruangan sunyi. "Ada kartu ATM aku, ada KTP aku, ada—" Ia berhenti, menarik napas, mencoba menenangkan diri. Tapi gagal. "Kok kamu tega banget sih, buang barang-barang penting aku?!" Ara menatap tajam pria di hadapannya. Matanya menyala, karena amarah yang sudah ia pendam sejak kemarin, sejak Dirga melangkah masuk ke tenda, sejak pria ini menghancurkan seluruh hidupnya dalam satu hari. Dirga bergeming. Ia masih duduk di kursinya, tubuhnya santai, tidak terpengaruh. Tangannya yang semula di atas meja, kini ia letakkan di pangkuan. "Kamu tidak butuh itu semua," ucapnya. Suaranya masih tenang, tenang yang menyebalkan, tenang yang membuat Ara ingin melempar sesuatu ke kepalanya. "Karena sekarang saya yang menanggung hidup kamu." "Tapi di sana ada surat-surat penting!" Ara benar-benar berteriak sekarang. Suaranya memantul dari dinding. "Itu milik aku! Hak aku! Kamu gak punya hak buat buang itu semua!" "Bisa dibuat lagi." Dirga berdiri dari kursinya. Gerakannya perlahan, tapi Ara merasakan tekanan dari ketinggian pria itu yang tiba-tiba menaungi meja. "Karena datanya tersimpan di kantor pusat." Ia menatap Ara. Tidak dengan amarah. Tidak dengan emosi. Hanya dengan keyakinan bahwa ia benar, bahwa Ara tidak punya suara, bahwa apapun yang ia lakukan adalah sesuatu yang pantas untuk wanita yang ia anggap perusak rumah tangga kakaknya. Ara membeku. Tangannya gemetar di sisi tubuh. Ia ingin berteriak lagi. Ingin melempar kursi meja makan ke arah pria itu. Ingin melukainya seperti ia dilukai. Ingin membuat pria ini merasakan sakit yang sama, sakit karena kehilangan sesuatu yang berharga, sakit karena tidak punya kendali, sakit karena diperlakukan seperti tidak penting. Tapi ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, di ruang makan yang sunyi, di hadapan pria yang baru sehari menjadi suaminya, dan merasakan semua amarahnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Lelah. Lelah yang luar biasa. Lelah yang membuat bahunya merosot, kepalanya menunduk, dan air matanya kembali mengalir perlahan di pipi. Dirga tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Hanya berdiri, menatap Ara, dengan ekspresi yang sama seperti sejak awal. Dingin. Datar. Tidak peduli. Ara mengusap pipinya dengan punggung tangan. Kasar. Kencang. Seolah ingin menghapus air mata itu sekaligus menghapus rasa sakitnya. "Kamu keterlaluan," bisiknya. Suaranya pecah, basah oleh tangis yang tertahan. "Kamu benar-benar keterlaluan, Dirga." Tidak ada balasan. Ara berbalik. Ia meninggalkan Dirga di ruang makan, meninggalkan meja dengan gelas kosong dan ponsel baru, meninggalkan semua amarah yang tidak tersalurkan. Ia menaiki tangga dengan kaki yang terasa berat. Setiap anak tangga terasa seperti mendaki gunung. Di puncaknya, ia berbelok ke koridor, lalu masuk ke kamar yang ia tempati, kamar yang masih terasa asing, yang tidak berbau seperti rumahnya, yang tidak memiliki satu pun benda miliknya. Ia menutup pintu. Tubuhnya merosot di punggung pintu, kakinya tidak sanggup berdiri lagi. Ara menangis. Bukan isak. Bukan tangis pelan. Tapi tangis yang keluar dari dalam perut, tangis yang tidak bisa ia tahan lagi, tangis yang keluar bersama dengan semua amarah, semua rasa sakit, semua ketidakadilan yang ia pendam sejak kemarin. Ia menangis untuk ponsel lamanya yang berisi koleksi foto-fotonya, yang berisi akun media sosialnya, yang berisi data-data penting, dan segala kenangannya. Ia menangis untuk tasnya yang berisi KTP dan kartu ATM. Ia menangis untuk hidupnya yang dulu sederhana, hangat, dan penuh tawa. Ia menangis untuk Ara yang dulu, Ara yang polos, Ara yang percaya pada cinta, Ara yang tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan menikah dengan pria yang membencinya dan tinggal di rumah yang terasa seperti penjara. Dan di lantai bawah, Dirga masih berdiri di ruang makan. Ia mendengar tangis itu. Samar, tapi jelas. Dan ia tidak peduli. *** Ara terbangun dari tidurnya. Matanya masih berat, tapi sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan menariknya keluar dari mimpi buruk yang bahkan di alam mimpi pun tidak memberinya ketenangan. Ia turun dari ranjang. Kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin. Langkahnya pelan, hampir seperti merayap, menuju kamar mandi. Lampu kamar mandi menyala otomatis begitu pintu terbuka. Cahaya putih yang menyilaukan membuatnya mengerjap beberapa kali. Ia berdiri di depan cermin. Ia memandangi wajahnya. Sembab. Matanya bengkak, bekas air mata yang tidak sempat kering semalam masih membekas di sudut-sudut kelopak. Hidungnya sedikit merah. Rambutnya kusut. Tidak disisir semalaman, bergelombang kacau ke segala arah. Beberapa helai menempel di pelipis, beberapa lagi berdiri tegak seperti sedang protes pada dunia. "Sial banget hidup kamu, Ra." Suaranya serak, karena semalam ia menangis terlalu lama dan terlalu keras. "Ditipu suami orang, dinikahi pria kejam yang gak punya perasaan." Ia tertawa pahit. Suara tawa itu aneh di telinganya sendiri, getir, hampa, seperti suara orang yang sudah kehilangan segalanya dan tidak tahu harus tertawa atau menangis lagi. Ia memejamkan mata sejenak. Menarik napas. Lalu membukanya lagi, menatap pantulan dirinya yang benar-benar kacau. Bayangan di cermin itu nyaris tidak ia kenali. Bukan Ara yang kemarin pagi tersenyum di depan riasan pengantin. Bukan Ara yang penuh harap dan percaya pada cinta. Itu Ara yang hancur. Ara yang tersisa setelah badai. Ara keluar dari kamar mandi, berjalan ke meja rias. Jarinya membuka laci pertama. Kosong. Laci kedua. Kosong. Laci ketiga. Hanya beberapa lembar kertas kosong dan pulpen tanpa tutup. Tidak ada yang ia cari. Ara keluar kamar. Koridor lantai dua masih gelap. Kakinya yang telanjang melangkah pelan menuruni anak tangga. Tiga belas anak tangga. Ia menghitungnya semalam, ketika tidak bisa tidur. Suasana masih gelap. Cahaya dari luar masuk tipis melalui jendela-jendela kaca, cukup untuk menerangi bentuk-bentuk kasar furnitur, tapi tidak cukup untuk menghilangkan kegelapan di sudut-sudut ruangan. Ara berjalan menuju dapur. Ruang dapur yang luas itu gelap, hanya diterangi lampu kecil di atas kompor yang sengaja dibiarkan menyala semalaman. Kaki telanjangnya menyentuh ubin dingin. Ia membuka rak kabinet satu per satu. Pintu kayu terbuka dengan suara berdecit pelan. Tangannya meraba di dalam gelap, mencari, menyentuh piring-piring yang tertata rapi, mangkuk-mangkuk yang tidak pernah ia gunakan, gelas-gelas kristal yang masih mengilap. Tidak ada. Ia berpindah ke laci. Laci besar di bawah meja bar. Ditariknya perlahan, dan isi di dalamnya berantakan, sendok, garpu, pisau dapur dengan gagang kayu, alat pembuka kaleng, pengupas wortel. Tangannya meraba lebih dalam. Melewati sendok-sendok yang dingin. Melewati garpu yang ujungnya runcing. Hingga jari-jarinya menyentuh sesuatu yang berbeda. Pegangannya. Dua lingkaran plastik hitam yang saling bersilangan. Dan di ujungnya, dua bilah logam tajam yang bertemu di satu titik. Gunting. Ara mengangkatnya perlahan dari dalam laci. Bilah gunting itu berkilau tipis terkena cahaya lampu di atas kompor. Tajam. Baru. Belum pernah digunakan. Ia tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. Senyum yang lahir dari keputusasaan yang sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Jemarinya menggenggam gunting itu erat-erat. Logamnya dingin di telapak tangannya, tapi tidak sedingin hatinya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN