14. Adab Seorang Istri

1339 Kata
Pagi itu Dirgantara Bayuadji sudah duduk di kursi meja makan sejak lima belas menit lalu, menyandarkan punggungnya dengan sempurna di sandaran kursi, satu tangan memegang cangkir keramik hitam berisi kopi hitam tanpa gula. Setelan kerjanya sudah rapi sejak pukul enam, kemeja putih yang disetrika tanpa kerutan, dasi hitam dengan simpul Windsor yang simetris, jas gelap yang menggantung di sandaran kursi di sampingnya, dan celana kain hitam yang ujungnya jatuh tepat di atas sepatu pantofel mengilap. Wajahnya tampak segar, seperti orang yang tidur cukup. Dan juga seperti orang yang tidak terbangun di tengah malam karena mendengar isak tangis istrinya dari kamar seberang. Yati berdiri di dekat kitchen sink, tangannya memegang spons basah yang sudah tidak digerakkan sejak lima menit lalu. Matanya sesekali melirik ke arah tuan majikannya yang duduk seorang diri di meja makan yang cukup untuk enam orang. Sepiring nasi goreng masih utuh di depan Dirga, hanya beberapa suap yang sudah berpindah ke lambungnya. Secangkir kopi di tangan kanannya, kadang diangkat, kadang diturunkan, tapi matanya tidak pernah menatap apa pun, hanya lurus ke depan, ke dinding kosong berwarna krem. Yati tidak habis pikir. Ini hari kedua ia bekerja di rumah ini. Hari pertama ia melihat pasangan majikannya bertengkar, mendengar bantingan pintu, dan menyaksikan nyonya rumah masuk ke kamar tamu dengan mata sembab. Hari kedua, tuan rumah makan sendirian tanpa mengajak istrinya, seolah itu hal yang biasa. Ia masih belum mengerti. Pasangan pengantin baru, itu yang Dirga katakan saat pertama kali dia datang ke rumah ini, tapi tidak ada tanda-tanda kemesraan. Tidak ada senyum. Tidak ada saling sapa. Tidak ada "Sayang" atau "Mas" atau panggilan manis yang biasa Yati dengar dari majikan-majikan sebelumnya. Mereka lebih mirip ... dua orang asing yang terpaksa berbagi atap. Bahkan dia bisa melihat sikap permusuhan yang terjadi di antara keduanya. Yati menggerakkan sponsnya lagi, membersihkan bagian pinggiran sink yang sebenarnya sudah bersih, hanya untuk memberi kegiatan pada tangannya. "Mau tambah kopinya, Mas?" tanya Yati, memberanikan diri. Suaranya sedikit meninggi agar terdengar dari meja makan. Dirga tidak menoleh. Matanya masih lurus ke depan. "Tidak perlu." Ia meletakkan cangkirnya di meja dengan gerakan yang pelan, lalu menjangkau jas yang tergantung di kursi samping. Yati mengira ia akan segera berangkat. Tapi Dirga tidak berdiri. Ia hanya memegang jasnya, lalu berbicara lagi. "Tolong selama saya di kantor, jangan biarkan istri saya keluar rumah." Yati mengangguk, meskipun Dirga tidak melihatnya. "Baik, Mas." Jangan biarkan istri saya keluar rumah. Bukan permintaan. Perintah. Yati sudah cukup lama bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk tahu bedanya. Sebelum Yati sempat bertanya lebih lanjut, apakah Mbak Ara boleh menerima tamu? Apakah Mbak Ara boleh menggunakan telepon? Apakah Mbak Ara boleh memasak? Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Pelan. Tidak tergesa-gesa. Langkah kaki orang yang tidak sedang terburu-buru untuk bertemu siapa pun. Yati menengok ke arah tangga. Matanya membulat begitu melihat sosok yang mulai menampakkan wujudnya. "Mbak Ara ..." Yati terkesiap, hampir menjatuhkan spons di tangannya. Ara muncul di ujung tangga, lalu melangkah turun dengan tenang. Penampilannya berbeda dari kemarin. Kaus ketat berwarna putih membalut tubuhnya dengan simpel, dipadukan dengan rok pendek berwarna krem. Penampilan yang lebih segar, lebih rapi, tidak seperti kemarin ketika ia terlihat seperti baru bangun dari tidur yang tidak nyenyak. Tapi bukan pakaiannya yang membuat Yati terkejut. Rambut Ara. Kemarin, rambut Ara panjang, hampir sepinggang, bergoyang saat ia berjalan, ikal alami di ujung-ujungnya. Yati sempat berpikir, rambut yang cantik, sayang jika dipotong. Kini, rambut itu sudah tidak panjang lagi. Hanya tersisa sebahu. Potongan yang rapi, sedikit bergelombang di ujung, membingkai wajah Ara yang tirus. Potongan rambut yang membuatnya terlihat lebih berani, lebih tegas. Atau mungkin lebih putus asa. Yati tidak tahu. "Pagi, Bu," sapa Ara pada Yati, dengan senyum kecil yang bahkan tidak menampakkan giginya. "Pagi, Mbak Ara." Yati mengeringkan tangannya di celemek, lalu berjalan sedikit mendekat. "Bibi sampe pangling, Mbak Ara potong rambut ya?" Ara tertawa kecil, suara pendek yang tidak terdengar gembira, lebih seperti respons otomatis atas pernyataan yang tidak perlu. "Iya, Bu. Iseng. Buang sial!" Dua kata terakhir itu diucapkan sambil menekankan nada, sedikit keras, seperti batu yang dilemparkan ke dinding kaca. Yati tidak tahu persis apa maksudnya, tapi dari caranya Ara mengatakannya, sepertinya bukan tentang nasib buruk. Ara berjalan ke meja makan, menarik kursi di seberang Dirga, dan duduk tanpa menunggu izin. Ia melirik piring nasi goreng di depan pria itu, masih penuh, dingin, tidak lagi mengepul. "Omong-omong, ibu gak nginep di sini, ya?" tanya Ara pada Yati, tapi suaranya cukup keras untuk didengar Dirga. Ia bahkan tidak menoleh ke arah pria di seberangnya sama sekali. Seolah Dirga hanya bagian dari furnitur ruang makan, ada, tapi tidak penting. "Hehe, iya, Mbak." Yati menjawab dengan nada sedikit canggung. "Saya kan pulang. Ke sini jam tujuh, pulang jam lima." "Oh, begitu toh. Kirain nginep." Ara mengambil gelas kosong di depan kursinya, membaliknya, lalu menuangkan air dari kendi kaca di tengah meja. Tangannya stabil, tidak gemetar. Seperti ia sudah berlatih untuk tidak terlihat lemah. Dirga berdehem. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat Yati menegang. Dirga meraih cangkir kopinya, menyesap pelan, matanya sempat menatap Ara sekilas, lalu kembali ke depan. Ia meletakkan cangkirnya dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya. Bukan membanting. Tapi cukup untuk menyatakan kehadirannya. Aku di sini. Aku tidak diabaikan. "Saya berangkat," ucapnya seraya berdiri. Ara tidak merespons. Matanya menatap ke meja, ke gelas airnya, ke mana pun kecuali ke arah Dirga. Dirga berdiri di sisi meja, tangan kanannya merapikan jas yang sudah ia kenakan, sedikit tarikan di kerah, sedikit tepukan di bahu. Lalu tangannya meraih ponsel baru milik Ara dari saku jasnya, benda hitam mengilap dengan casing bening tipis, dan meletakkannya di tengah meja, tepat di tempat yang sama seperti kemarin. "Ponsel kamu, sudah saya isi e-wallet di sana." Ia mendorong ponsel itu sedikit ke depan, ke arah Ara. Ara tidak menyentuhnya. Tidak juga menatapnya. "Sore ini KTP dan beberapa surat penting kamu akan diantar." Ara masih diam. Tangannya memegang gelas air, menggenggamnya erat, tapi tidak meminumnya. Dirga hendak melangkah. Kakinya sudah bergerak ke meninggalkan area dapur. Tapi kemudian ia berhenti. Ia menoleh. Matanya menatap Ara, tatapan yang dingin, seperti biasa. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Mungkin karena rambut Ara yang pendek. Atau mungkin karena Ara tidak menatap balik. "Kalau ada apa-apa, hubungi saya. Jangan pergi tanpa izin." Ia berhenti sebentar. Rahangnya mengeras. "Ingat adab seorang istri." Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sama seperti saat ia memesan kopi, datar, tanpa emosi. Tapi berat. Sangat berat. Seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air yang tenang. Ara menggigit bibir bawahnya. Tangannya yang memegang gelas, kini menggenggam lebih erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Ia ingin memaki. Ingin melempar gelas itu ke wajah pria itu. Ingin berteriak, Adab seorang istri?! Apa kamu sudah berlaku seperti suami? Tapi sebelum mulutnya terbuka, Dirga sudah berbalik. Kepalanya menghadap ke depan, tidak menoleh lagi. Langkahnya mantap menuju pintu, melewati ruang tamu, melewati teras, menghilang di balik pintu kaca yang tertutup pelan. Suara mobil menyala di luar. Lalu menghilang. Yati yang sejak tadi berdiri di dekat kitchen sink, kini berbalik ke arah wastafel. Tangannya mengambil spons lagi, mencuci piring yang sebenarnya sudah bersih, saking tidak ingin terlibat dalam drama majikan barunya. Di meja makan, Ara masih duduk dengan posisi yang sama. Tangannya melepaskan gelas, lalu meraih ponsel baru itu. Ia menyalakan layar. E-wallet-nya sudah terisi sejumlah saldo yang lumayan banyak. Dirga tidak berbohong soal itu. Tapi Ara tidak peduli dengan uang digital. Ia menekan aplikasi kontak. Nama-nama di sana masih sama. Dirgantara Bayuadji. Arman. Ibunya. Tidak ada yang baru. Ia meletakkan ponsel itu di meja, layarnya masih menyala. "Adab seorang istri," ulangnya pelan, menirukan suara Dirga dengan nada penuh ejekan. "Dasar b******k!" Ara berdiri. Ia mengambil piring kosong dari rak, meletakkannya di depan kursinya, lalu mulai menyendok nasi goreng dan lauk yang sudah tersedia. Ia makan sendiri. Tidak ada yang menemani. Yati masih sibuk di kitchen sink, sengaja tidak menatap ke arahnya. Dan di meja makan yang sunyi itu, Ara mengunyah nasi yang terasa hambar, sementara di luar, pagar besi masih tertutup, dan satpam di gerbang kompleks sudah mendapat perintah, "jangan biarkan istri saya di rumah nomor 7 keluar tanpa izin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN