Malam itu, tenda-tenda yang pagi tadi menjulang megah dengan hiasan bunga dan lampu gantung, kini sudah dilipat dan diangkut sejak sore. Bekas pancang-pancang besi masih tertinggal di halaman, meninggalkan lubang-lubang kecil di tanah. Beberapa kursi plastik masih berserakan di sudut, belum sempat diangkut.
Ara duduk di teras belakang, di bangku kayu panjang yang biasa ia gunakan untuk membaca di waktu senggang. Kini bangku itu terasa asing, seperti benda yang tidak pernah ia kenal. Kebaya putihnya sudah berganti dengan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu, pakaian paling nyaman yang ia temukan di lemari, yang membuatnya tidak perlu menatap bayangan pengantin di cermin.
Dari dalam rumah, suara bisik-bisik merayap di sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat. Ara tidak perlu mendengar jelas untuk tahu isinya. Ia bisa menebak dari nada suara yang naik turun, dari helaan napas panjang yang diselingi desisan, dari cara kerabatnya menutup mulut dengan punggung tangan ketika melirik ke arahnya.
Tadi sore, sepupunya yang paling tua, Lisa, bahkan tidak menyapanya ketika berpapasan di lorong. Padahal biasanya Lisa selalu memeluknya erat dan menanyakan kabar. Kini Lisa hanya menunduk, mempercepat langkah, lalu berbisik sesuatu pada suaminya yang langsung menggelengkan kepala.
Tatapan sinis itu. Ara sudah hafal bentuknya.
Ia menerima setidaknya dua belas kali tatapan seperti itu sejak matahari mulai condong ke barat. Dari bibi yang duduk di ruang tamu sambil menyusun jari. Dari sepupu laki-laki yang mengangkat alis ketika mendengar cerita. Dari pembantu yang tiba-tiba menjadi pendiam dan tidak berani menatap matanya.
Semua orang tahu.
Mereka tahu bahwa Ara hampir menjadi istri dari suami orang. Bahwa pria yang seharusnya menjadi suaminya ternyata sudah memiliki istri dan anak. Bahwa jika Dirgantara Bayuadji tidak hadir tepat waktu, maka Ara akan menyandang status istri kedua.
Atau lebih buruk dari itu, mungkin sebutan pelakor akan terus menjadi mimpi buruknya.
Kata yang begitu mudah terucap dari bibir orang-orang yang tidak tahu apa-apa.
"Aku gak nyangka, kalau pernikahan kamu bakal jadi kayak gini, Ra."
Suara itu datang dari belakang, disertai derap sandal jepit di atas lantai keramik teras.
Ara menoleh.
Mona, sepupunya yang lain, berdiri di ambang pintu, satu tangan memegang ponsel, tangan lainnya bertumpu di pinggang. Sepupunya itu mengenakan dress warna oranye yang terlalu terang untuk suasana malam seperti ini. Dia menatap Ara dengan ekspresi yang ia klaim sebagai prihatin, tapi Ara tahu betul bedanya antara prihatin dan ingin tahu.
Mona melangkah keluar, sandalnya berdecit di lantai. Ia duduk di samping Ara tanpa diminta, tanpa menunggu izin.
"Kasihan banget kamu, ya," lanjut Mona, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Matanya tidak lepas dari wajah Ara, mengamati, mencari reaksi. "Calon suami ternyata sudah beristri. Terus sekarang status kamu jadi istri dari pria yang gak pernah anggap kamu istri. Lihat, masa dia pergi ninggalin wanita yang baru saja dinikahi?"
Ara tidak menjawab. Tangannya meremas ujung kemeja abu-abunya.
"Eh, iya." Mona menyikut pelan lengan Ara, seperti mereka sedang bergosip tentang orang lain, bukan tentang kehidupan Ara yang hancur dalam sehari. "Pria itu adik dari istri calon suamimu, makanya dia begitu."
Mona menghela napas panjang. Ia menepuk paha Ara beberapa kali, gerakan yang seharusnya menghibur tapi terasa seperti tepukan di punggung orang yang tenggelam.
"Kasihan banget kamu, Ra."
Dua kali. Mona mengatakan kasihan dua kali. Tapi tidak ada setetes pun rasa kasihan yang Ara rasakan dari nada suaranya. Yang ada hanyalah rasa ingin tahu yang lapar akan detail, akan drama, akan sesuatu yang bisa ia ceritakan pada kerabat-kerabat lainnya nanti malam.
Ara membuang napas panjang.
Ia ingin sekali berkata sesuatu. Ingin meledak. Ingin berteriak, "Kamu pikir aku tidak tahu kalau aku kasihan? Kamu pikir aku butuh kamu mengingatkannya?"
Tapi ia tidak melakukan itu.
Bibirnya hanya tertutup, lalu menghela napas lagi. Biarlah. Biarlah waktu yang membalas semua ini. Itu pun jika doanya didengar. Itu pun jika Tuhan masih mau mendengar doa dari wanita yang hari ini dinikahi oleh pria yang membencinya.
"Habis ini kamu resign dong, Ra?" Mona bertanya lagi, tidak kapok dengan diamnya Ara. Matanya berbinar, seperti baru saja mendapat ide brilian. "Teman-teman kantor kamu sudah pada tau kan?"
Ara menoleh. Sekarang, ia menatap Mona.
Bukan tatapan lelah seperti tadi. Tapi tatapan yang mengeras, seperti permukaan air yang mulai membeku, perlahan, tapi pasti.
Mona tampak sedikit ciut. Tapi ia tidak bergerak dari tempat duduknya.
"Ara."
Suara itu datang dari pintu dapur. Wina, berdiri di sana dengan ekspresi khawatir. Wajahnya terlihat lelah.
"Makan dulu, yuk."
Wina berjalan menghampiri, langkahnya pelan. Ketika sampai di samping Ara, ia tidak bertanya apa-apa. Tidak menatap Mona. Tidak meminta Ara untuk pindah atau segera berdiri.
Ia hanya menggandeng tangan putrinya.
Lembut. Tapi erat.
Seolah dengan genggaman itu, ia berkata, "Mama di sini. Mama tidak akan ke mana-mana."
Ara merasakan hangat dari telapak tangan ibunya merambat ke jari-jarinya yang dingin. Ia tidak menangis, air matanya sepertinya sudah habis sejak pagi tadi. Tapi dadanya terasa sesak, dengan cara yang aneh. Bukan sesak yang menyakitkan. Tapi sesak seperti sesuatu yang terlalu penuh dan tidak tahu harus keluar lewat mana.
Ara berdiri.
Ia membiarkan ibunya menggandeng tangannya, membawanya menjauh dari teras belakang, menjauh dari Mona yang masih duduk di bangku kayu dengan mulut sedikit terbuka, mungkin karena tidak puas belum mendapat jawaban.
Mereka berjalan melewati lorong menuju ruang makan. Dari balik dinding, Ara mendengar suara Mona bergumam pelan, hampir tidak terdengar.
"Sombong amat sih. Pantes aja mudah dibohongi."
Ara tidak menoleh.
Tangannya tetap dalam genggaman ibunya, dan ia membiarkan dirinya dipimpin, karena untuk saat ini, ia tidak punya kekuatan untuk memimpin dirinya sendiri.
~.~
Malam semakin larut. Rumah yang sejak tadi ramai oleh bisik-bisik dan langkah kaki yang bolak-balik, kini mulai sunyi. Lampu-lampu di ruang tamu masih menyala, tapi hanya tinggal setengahnya. Sebagian besar kerabat sudah memilih beristirahat di kamar masing-masing, lelah bukan hanya karena membantu membersihkan sisa resepsi, tapi juga karena membawa beban cerita yang begitu berat untuk tidak disebarkan.
Ara sudah berada di kamarnya sejak satu jam lalu. Wina sempat mengantarkan segelas s**u hangat, tapi Ara hanya memegangnya tanpa minum. Matanya menatap langit-langit kamar yang dulu terasa begitu akrab, kini terasa seperti langit-langit kamar yang asing.
Di luar, halaman rumah masih menyisakan bekas keramaian. Sebagian pancang-pancang besi tempat tenda berdiri masih tertancap di tanah, beberapa kursi plastik berwarna putih masih teronggok di pinggir jalan, belum sempat diangkut karena semua orang terlalu lelah secara fisik dan mental.
Udara malam terasa dingin, tapi tidak ada angin. Hanya kesunyian yang perlahan menyelimuti.
Kemudian, suara mesin mobil memecah sunyi.
Bukan mobil biasa. Suaranya berat, tebal, seperti mobil mewah yang jarang melintas di jalan kompleks perumahan yang sederhana ini.
Seorang kerabat yang masih terjaga, melongok dari jendela ruang tamu. Matanya membulat saat melihat mobil hitam berpelat B itu berhenti tepat di depan pagar. Ia bergegas ke kamar Haris dan mengetuk pintu.
"Mas Haris! Mas Haris, ada tamu!"
Haris yang baru saja mengganti kemejanya dengan baju rumah, segera keluar. Wina mengikutinya dari belakang, wajahnya tegang seperti orang yang sudah lelah dikejutkan tapi masih punya sisa energi untuk khawatir.
Mereka berdua berjalan menuju teras. Lampu teras masih menyala, menerangi tiga anak tangga beton yang mengarah ke halaman. Di balik pagar, mobil hitam itu masih menyala, lampu depannya mati, tapi mesinnya tidak dimatikan.
Pintu penumpang belakang terbuka.
Dan sosok yang keluar dari dalam membuat Haris mengepalkan tangannya, bukan karena marah, tapi karena gugup.
Dirgantara Bayuadji.
Pria itu masih mengenakan setelan hitam yang sama sejak pagi. Jasnya mungkin sudah sedikit kusut di bagian siku, tapi tetap rapi. Tidak ada dasi. Kemeja hitam di dalam jasnya terbuka satu kancing di leher. Rambutnya masih sama, disisir rapi meski sudah lewat dua belas jam sejak akad.
Ia berjalan melewati halaman. Langkahnya tenang, tidak tergesa, melewati pancang-pancang besi yang masih berdiri seperti sisa-sisa pertempuran. Setiap langkahnya terdengar di tanah yang mulai kering setelah gerimis sore tadi.
Dirga berhenti tepat di bawah teras.
Cahaya lampu teras jatuh di wajahnya, membuat bayangan di tulang pipinya yang tegas. Matanya naik, menatap Haris yang berdiri di undakan tertinggi, lalu Wina yang berada setengah langkah di belakang suaminya.
"Saya akan menjemput istri saya."
Suaranya datar. Tidak ada basa-basi. Tidak ada salam yang bertele-tele. Langsung ke tujuan.
Haris terdiam sesaat. Tangannya yang semula mengepal di sisi tubuh, kini perlahan mengendur. Ia menatap pria muda di depannya, pria yang pagi ini datang seperti badai, memaksa akad, lalu pergi tanpa menoleh. Kini ia kembali, dengan kalimat yang sama datarnya.
Haris menarik napas.
"Silakan masuk. Bisa kita bicara lebih dulu sebelum Anda membawa putri kami?"
Dirga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan.
Kakinya naik ke undakan pertama. Lalu kedua. Lalu ketiga.
Sekarang ia berdiri di teras, setara dengan Haris. Tidak lebih tinggi. Tidak lebih rendah.
Haris melangkah masuk lebih dulu, diikuti Wina. Dirga mengikuti dari belakang. Pintu ruang tamu terbuka lebar, dan ketiganya masuk ke ruangan yang penerangannya lebih redup dari teras.
Haris dan Wina duduk di sofa panjang, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Dirga memilih kursi di seberang mereka. Ia duduk dengan tegak, tidak bersandar.
Sunyi.
Haris membuka suara lebih dulu. Wajahnya tidak setegang tadi pagi. Ada sesuatu di sana, usaha untuk bersikap lebih terbuka, lebih tenang. Karena ini bukan lagi soal harga diri di depan tamu undangan. Ini soal putrinya. Masa depan putrinya.
"Begini, Nak Dirga." Haris mulai, suaranya berat tapi terkendali. Kedua tangannya bertumpu di pangkuan. "Karena pernikahan ini masih terlalu baru, dan Nak Dirga tidak begitu mengenal anak kami ... bagaimana kalau kita melakukan pembatalan pernikahan?"
Wina menoleh ke arah suaminya, lalu kembali menatap Dirga. Matanya berkedip cepat, tanda bahwa ia setuju. Mereka sudah membahasnya sepanjang sore tadi.
"Bukankah ini lebih baik?" lanjut Haris. "Dan saya mohon maaf, karena Ara sama sekali tidak tahu jika ... Zaki sudah beristri. Jujur saja, kami semua telah ditipu mentah-mentah oleh Zaki."
Kata ditipu terasa pahit di mulut Haris. Sebagai ayah, sebagai kepala keluarga, mengakui bahwa ia dibohongi di depan pria yang lebih muda darinya bukanlah hal yang mudah. Tapi ia melakukannya. Demi Ara.
Wina ikut menimpali. Suaranya lebih lembut dari Haris, tapi tidak kalah tegas.
"Benar, kami semua ditipu. Andai Ara tahu jika Zaki sudah berkeluarga pun, dia tidak akan mau menjalin hubungan dengannya."
Wina berhenti sejenak, seperti menimbang-nimbang apakah ia perlu menambahkan sesuatu. Lalu ia melanjutkan, dengan nada yang lebih pelan.
"Ara bukan wanita seperti itu. Dia anak yang baik. Dia juga korban di sini."
Kalimat terakhir itu menggantung di udara.
Dia juga korban.
Dirga tidak bergerak. Wajahnya tetap datar. Tidak ada perubahan di sudut bibir. Matanya masih menatap Haris dan Wina bergantian, tidak tajam, tidak juga lembut. Hanya ... datar.
Haris menunggu. Wina menunggu.
Udara di ruang tamu terasa semakin dingin.
Kemudian Dirga membuka mulut.
"Maaf, saya tidak bisa."
Suaranya tenang. Tidak emosional. Tidak defensif. Hanya pernyataan fakta.
"Pernikahan akan tetap dilanjutkan."
Haris dan Wina saling berpandangan. Ada kilat di mata Haris, ekspresi kaget. Wina menggigit bibir bawahnya, tangannya yang semula tenang di pangkuan, kini mulai meremas lutut suaminya.
Ruangan itu hening lagi.
Dirga masih duduk tegak di sofa tunggal. Ekspresinya tidak berubah. Seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat sederhana.
Haris menghela napas panjang. Ia menatap pria di depannya, pria yang entah bagaimana terlihat sangat tenang untuk seseorang yang baru saja menikahi wanita asing di pagi hari, lalu menghilang, lalu kembali lagi di malam hari dengan pernyataan yang tidak bisa dibantah.
Pernikahan akan tetap dilanjutkan.
Bukan tawaran. Bukan diskusi.
Keputusan.
Haris menunduk sebentar, memandangi lantai di bawahnya. Lalu ia mendongak lagi, menatap Wina yang matanya mulai berkaca-kaca dan menggeleng pelan.