Haris dan Wina mengantar Ara hingga ke teras. Lampu depan mobil hitam itu menyorot ke arah jalanan depan, menciptakan bayangan panjang di halaman yang masih berserakan kursi dan pancang bekas tenda. Udara malam terasa dingin, tapi tidak sedingin tangan Ara yang digenggam oleh ibunya.
Wina tidak melepaskan genggaman itu. Tangannya menggenggam erat pergelangan tangan putrinya, seperti ingin menahan waktu, menahan detik, menahan Ara agar tidak melangkah lebih jauh.
"Nanti sering kasih kabar ke sini, ya, Nak." Wina berbisik, suaranya hampir tertelan angin malam. Matanya berkaca-kaca, tapi ia berusaha tegar. "Jangan sampai tidak."
"Iya, Ma. Pasti."
Ara menunduk. Tangannya yang bebas meraih tangan ibunya untuk membawa tangan itu ke keningnya. Ia mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, lama, seperti ingin mengingat baunya, hangatnya, rasa aman yang selama ini ia temukan di sana.
Lalu ia berpindah ke tangan ayahnya. Haris berdiri tegak di samping Wina, rahangnya mengeras seperti biasa, tapi matanya berkaca juga, meski ia berusaha menyembunyikannya. Ara mencium tangan ayahnya, merasakan tekstur kasar dari kerja keras yang selama ini menghidupi keluarganya.
"Jadi istri yang baik dan nurut sama suami, ya, Nak."
Pesan itu keluar dari mulut Haris dengan nada yang berat. Ara tahu ayahnya tidak menyukai menantunya. Ia bisa melihat dari cara Haris mengucapkan kata suami, seperti ada duri yang tersangkut di lidahnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ini adalah nasihat terakhir sebelum putrinya pergi ke rumah orang asing.
Ara mengangguk. Lalu tersenyum.
Senyum kaku. Senyum yang ia latih sejak pagi, sejak pria bernama Dirgantara Bayuadji melangkah masuk ke tenda dan menghancurkan seluruh dunianya.
Di belakang Ara, Arman muncul dari balik mobil. Pria itu berjalan cepat ke arah mereka, membungkuk hormat pada Haris dan Wina, lalu mengambil koper merah muda yang sudah setia menemani Ara sejak kuliah. Ia membawanya ke bagasi, meletakkannya dengan hati-hati di antara dua koper hitam besar yang sudah lebih dulu ada di sana.
Arman kemudian membuka pintu penumpang belakang untuk Ara.
Ara bisa melihat ke dalam. Dirga sudah duduk di sisi sebelahnya, kursi yang tepat di samping pintu sebelah kiri. Pria itu menatap lurus ke depan, tidak menoleh, tidak menyapa, seperti Ara bukan siapa-siapa yang perlu disambut.
Ara menoleh ke arah ibunya sekali lagi. Wina tersenyum, senyum yang sama kaku dengan senyum Ara. Haris mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa ini sudah saatnya.
Ara melangkah.
Kakinya terasa berat, seperti diikat bola besi. Setiap langkah ke arah mobil itu terasa seperti langkah menuju jurang yang tidak diketahui dasarnya. Ia masuk ke dalam mobil, duduk di kursi yang empuk berbalut kulit, dan pintu ditutup oleh Arman dari luar.
Suara pintu mobil terdengar begitu nyata. Seperti bunyi sel penjara yang terkunci.
Ara tidak menoleh ke kanan. Tidak melihat ke arah Dirga yang duduk di sampingnya. Matanya hanya tertuju ke luar jendela, ke teras rumah yang masih terang benderang, di mana ayah dan ibunya berdiri berdampingan.
Wina mengangkat tangan, melambai pelan. Haris melakukan hal yang sama, meski gerakannya kaku.
Ara mengangkat tangannya juga. Melambai balik.
Dan ketika mobil mulai bergerak, lambaian itu semakin cepat, semakin panik, seperti Ara ingin berteriak "Tunggu!" tapi suaranya mati di tenggorokan.
Mobil melaju pelan melewati halaman, lalu berbelok ke jalanan kompleks yang gelap. Rumah Ara mulai mengecil di kaca spion. Terasnya yang hangat, lampu kuningnya yang redup, bayangan ayah dan ibu yang semakin kecil, semuanya menghilang di balik tikungan.
Ara menoleh ke depan.
Wajahnya sekarang menghadap ke jalanan yang masih ramai. Ia tidak menoleh ke kanan. Tidak bertanya pada pria di sebelahnya. Tidak bertanya ke mana mereka akan pergi. Tidak bertanya di mana ia akan tidur malam ini. Tidak bertanya apa yang akan terjadi besok.
Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Ara.
Dirga juga diam.
Mobil melaju melewati lampu-lampu jalan yang berpendar oranye, melewati pertigaan yang sepi, melewati jembatan layang yang membentang di atas kota yang mulai gelap. Suara ban di aspal terdengar seperti dengungan monoton yang membuat mata Ara terasa berat, tapi ia tidak mau memejamkannya. Ia takut jika ia memejamkan mata, ia akan terbangun di tempat yang lebih asing dari ini.
Akhirnya, mobil memasuki sebuah gerbang besar dengan pos satpam yang menjulang. Perumahan cluster. Jalanan di dalamnya lebih lebar, lebih sunyi, dengan pohon-pohon palem yang berjejer rapi di kiri-kanan. Rumah-rumah di sini semuanya minimalis, dengan desain yang seragam tapi mewah, dinding batu alam, jendela kaca besar, dan halaman yang ditata dengan taman mungil.
Mobil berhenti di depan salah satu rumah. Dua lantai. Warna cat abu-abu muda dengan aksen kayu di bagian teras. Lampu taman menyala redup, menerangi setapak batu menuju pintu utama.
Ara merasakan jantungnya berpacu.
Arman keluar lebih dulu. Kemudian Dirga. Pria itu membuka pintu sendiri, tanpa menunggu siapa pun, lalu berdiri di samping mobil dengan tangan di saku celana. Ia tidak membukakan pintu untuk Ara. Tidak menoleh.
Ara masih duduk di dalam. Tangannya menggenggam ujung dressnya, mencengkeram kain itu erat-erat. Ia tidak ingin turun. Ia ingin Arman menutup pintu lagi dan membawanya kembali ke rumah ibunya.
Tapi Arman berjalan ke sisi mobilnya. Pria itu membukakan pintu untuk Ara, gerakan yang sopan, hampir hormat, tapi Ara tidak merasa terhormat. Ia merasa seperti sapi yang digiring ke kandang.
"Silakan, Nona."
Pada akhirnya, Ara turun.
Kakinya menyentuh aspal halaman yang masih baru. Wangi tanah dan tanaman hias menyambutnya, aroma yang seharusnya menenangkan, tapi kini terasa seperti bau tempat asing yang tidak pernah ia minta.
Ia menoleh ke kanan. Dirga sudah berjalan ke depan. Pria itu melangkah naik ke teras, membuka pintu utama dan masuk ke dalam tanpa menunggu.
Bayangannya hilang di balik pintu kayu yang gelap.
Ara menatap pintu itu. Lalu menatap rumah itu.
Ini rumahnya.
Rumah suaminya.
Rumah yang tidak pernah ia kenal, tidak pernah ia minta, tidak pernah ia bayangkan dalam mimpi terburuk sekalipun.
Ia menarik napas panjang. Udara malam terasa dingin di paru-parunya. Lalu ia melangkah, menyusuri setapak batu, menaiki tiga anak tangga teras, dan melewati pintu yang baru saja dimasuki Dirga.
Begitu masuk, Ara langsung berhenti di ambang pintu.
Ruang tamu itu luas. Jauh lebih luas dari ruang tamu di rumah orang tuanya. Lantainya marmer mengkilap, memantulkan lampu gantung minimalis di atas. Satu set sofa kulit berwarna abu-abu tua duduk rapi menghadap meja kaca yang bersih tanpa debu. Di sudut ruangan, ada rak TV minimalis dengan televisi layar datar yang ukurannya hampir sebesar dinding.
Dapur terbuka di belakang ruang tamu, dengan kabinet kayu gelap dan meja bar granit hitam. Peralatan masak bergantungan rapi di rak dinding. Semuanya lengkap. Semuanya baru. Semuanya beraroma kayu dan cat yang masih segar.
Rumah ini sudah siap ditinggali.
Bahkan sebelum Ara datang.
Ara menelan ludah. Suaranya keluar pelan, hampir berbisik, seperti takut mengganggu kesunyian yang mencekik.
"Apa kamu sudah menyiapkan semua ini sebelumnya? Pernikahan ini."
Dirga, yang berdiri di dekat jendela dengan membelakangi Ara, perlahan menoleh. Wajahnya setengah terkena cahaya lampu jalan dari luar, setengah tenggelam dalam bayangan. Tapi matanya terlihat jelas. Dingin. Tajam. Seperti belati yang baru diasah.
"Kalau kamu pikir saya menyiapkan ini semua untuk kamu, itu salah besar."
Ia berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tapi setiap langkah terasa seperti mundur. Tidak, bukan mundur. Seperti ruangan ini menyempit setiap kali ia bergerak.
"Itu salah besar," ulangnya.
Dirga berhenti tepat di hadapan Ara. Jarak mereka hanya satu langkah. Ara bisa mencium aroma parfum pria itu, sesuatu yang tajam dan maskulin, seperti kayu cedar dan jeruk. Wangi yang seharusnya enak, tapi kini terasa memuakkan bagi Ara.
Dirga menunduk sedikit. Tingginya membuat Ara harus mendongak untuk menatap matanya. Tapi ia tidak mau. Yang dia lakukan hanya menatap d**a pria itu, kemeja hitam di balik jas hitam yang sudah sedikit kusut.
"Ini bukan rumah."
Suara Dirga turun menjadi bisikan. Bukan bisikan lembut. Tapi bisikan dingin, seperti angin yang masuk melalui celah dinding di malam hari.
"Ini adalah penjara."
Ara merasakan dadanya sesak. Ia ingin mundur, tapi kakinya beku.
"Dan pernikahan ini," lanjut Dirga, matanya tidak berkedip, "adalah hukuman untukmu."
Kata-kata itu jatuh satu per satu, berat, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur. Dan Ara hanya bisa berdiri di sana, di ruang tamu yang luas dan mewah, dengan pria yang baru beberapa jam lalu mengucapkan ijab kabul untuknya, dan menyadari bahwa ia tidak akan menemukan kenyamanan di sini.
Tidak malam ini.
Tidak selamanya.
Di luar, angin malam bertiup lagi, menerbangkan daun-daun kering di halaman. Suaranya terdengar seperti tawa sinis yang mengejek nasib seorang gadis yang hari ini dinikahi, dihukum, dan dipenjara, semuanya dalam waktu bersamaan. Pada kenyataannya, dia adalah korban.