“Aduh, Mi… kau yakin mau ketemu Dika?” suara Dadang terdengar cemas. “Abang takut banget kalau sampai ketahuan Tuan Muda. Bukan cuma kau yang habis, Abang juga bisa dipecat!” Mimi mendengus kecil sambil merapikan tasnya. “Ya ampun, Bang Dadang ini gimana sih. Yang kasih nomor aku ke Dika juga Abang. Terus sekarang aku harus gimana? Nggak enak juga kalau aku nolak. Dulu dia banyak bantu ayah,” jawab Mimi, sedikit kesal tapi juga ragu. Mereka sudah berdiri di parkiran mobil. Mesin belum dinyalakan, tapi hati Mimi sudah berdebar tidak karuan. Di satu sisi, ia merasa bersalah pada Irwan. Di sisi lain, ada utang budi yang belum tuntas. Namun satu hal yang tak bisa ia pungkiri, inilah pertama kalinya, setelah sekian lama, Mimi bisa bergerak tanpa bayang-bayang Irwan yang posesif. Entah

