Mimi menahan langkah ketika Dika menarik kursi di depannya. “Duduk dulu, Mi. Kita makan siang bareng,” ujar Dika sambil melambaikan tangan ke arah pelayan. Mimi menggeleng cepat. “Jangan lama-lama, bang Dika. Aku cuma sebentar. Pesan minum saja ya.” Dika terlihat kecewa, tapi tetap mengangguk. Setelah pelayan pergi, ia menatap Mimi lama, seolah ingin memastikan perempuan di depannya masih Mimi yang sama. “Aku sebenarnya mau ngomong soal rencana ke depan,” ucap Dika pelan. “Aku sudah niat… aku mau melamar kamu, Mi. Aku juga sudah kepikiran buat ngomong ke orang tuaku.” Mimi menarik napas dalam-dalam. Inilah yang sejak tadi ia takuti. “Mas Dika,” potong Mimi lembut, namun tegas, “aku datang ke sini justru karena itu. Supaya kamu tidak berharap lebih jauh.” Dika terdiam. “Janji itu

