Leon sempat melirik ke arah Mimi dengan tatapan kesal, bukan benar-benar marah, lebih pada rasa jengkel yang tertahan. Niat baiknya barusan justru berbalik menjadi masalah. “Nanti aku jelaskan, Sherly. Sudah dulu, ya,” ujarnya cepat, lalu langsung memutus sambungan telepon sebelum Sherly sempat berkata apa-apa lagi. Kabinnya kembali hening. Leon menghela napas pelan. Hm, benar juga kata orang. Nggak usah sok-sokan nolong orang… ujung-ujungnya aku yang kena sendiri, gumamnya dalam hati. Mau marah juga percuma. Semua sudah terlanjur. Belum lagi setiap kali wajah Mimi yang polos itu terlintas di benaknya, rasa tidak tega langsung muncul tanpa ia minta. Itu yang membuat Leon semakin bingung dengan perasaannya sendiri. Ia sendiri tidak mengerti, mengapa sikapnya pada Mimi terasa berbed

