Mau tidak mau, Leon akhirnya memutar setir ke arah yang sudah ia hafal di luar kepala, tempat Sherly berada. Ia tahu, menunda hanya akan memperpanjang masalah. Sherly bukan tipe perempuan yang mudah dilupakan amarahnya begitu saja, apalagi setelah telepon tadi terputus sepihak. Mobil kembali melaju menembus jalanan malam. Leon menghela napas pelan. Ia sebenarnya lelah. Namun kebiasaan lamanya kembali mengambil alih, datang menjelaskan, lalu mengalah. Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah Sherly. Lampu teras menyala terang, seolah sudah menunggunya. Leon turun dari mobil dan melangkah masuk dengan perasaan yang campur aduk. Ia tahu, begitu pintu itu terbuka, ia tidak hanya akan menghadapi Sherly- melainkan juga tuntutan, kecemburuan, dan emosi yang lagi-lagi harus ia

