50. Saat Cemburu Mulai Kehilangan Arah

1298 Kata

Mimi bersin keras. “HACCIH!” Vin refleks mundur setengah langkah. “Buset, Mi. Itu bersin atau kode darurat?” Mimi mengusap hidungnya. “Nggak tahu, Bang. Tapi rasanya… aku baru saja dijadikan cerita.” Vin menyipitkan mata. “Dijadikan cerita?” “Iya,” Mimi mengangguk yakin. “Biasanya kalau tiba-tiba bersin tanpa sebab, ada orang yang lagi ngomongin kita. Ini bersinnya keras banget, berarti ceritanya panjang.” Vin menghela napas. “Mi… aku mau tanya baik-baik ya.” Mimi langsung tegang. “Iya Bang, tanya. Asal jangan soal matematika.” Vin menurunkan suara. “Tadi… kamu ngapain berdua sama Tuan Leon di lorong sepi itu?” Mimi berkedip. “Hah? Sepi?” “Iya. Lorong servis.” “Oh itu,” Mimi mengangguk mantap. “Kami cuma berdiri berdua, agak dekat, terus saling menatap.” Vin langsung tersedak lu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN