Irwan mengeluarkan dompet dari saku jasnya, lalu mengambil satu map cokelat tipis. “Saya Irwan,” katanya singkat. “Dan saya calon suami Mimi.” Tuan Tanah Joko terkekeh. “Calon suami tidak menghapus janji.” Irwan membuka map itu. “Benar. Tapi hukum yang menghapus.” Ia menoleh pada Joko. “Perjanjian menikahkan anak di bawah tekanan utang, tanpa persetujuan pribadi, itu perdagangan manusia.” Dua tukang pukul Joko saling pandang. Irwan melanjutkan, masih tenang. “Saya sudah laporkan ini ke pengacara saya di kota. Salinannya sudah masuk ke Polsek kecamatan sejak pagi.” Bu Siti langsung pucat. “Kau… kau ngancam?” “Bukan,” jawab Irwan. “Saya memperingatkan.” Ia melirik jam tangannya. “Kalau Bapak Joko masih berdiri di sini lima menit lagi, laporan itu akan naik tingkat.” Joko menegang.

