Walau wajahnya jelas menyimpan rasa malu dan gengsi yang belum sepenuhnya runtuh, Irwan akhirnya menghampiri Isabel yang sedang santai memainkan ponsel di ruang keluarga. “Bel,” panggil Irwan kaku. Isabel melirik sekilas. “Kenapa, Kak? Kok mukanya kayak habis kalah debat sama hati sendiri?” Irwan berdehem. “Mimi… sekarang tinggal di mana?” Alis Isabel langsung naik. Dalam hati ia nyengir. Oh? Raja gengsi akhirnya tumbang juga. “Kasihan sih Mimi,” jawab Isabel sengaja dilembutkan, penuh drama. “Aku terpaksa bawa dia ke kos kecil. Kecil banget. Sumpek. Kipas anginnya bunyi ‘ngiiing’ kayak mau pensiun.” Irwan langsung menoleh tajam. “Apa?” “Iya,” lanjut Isabel tanpa rasa bersalah. “Namanya juga anak desa baru merantau. Uangnya pas-pasan. Bahkan kosnya itu… ngutang dulu ke aku.” Irwa

