Pintu ruangan Leon tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. “Leon...” Suara Sherly terhenti di udara. Wajahnya yang semula membawa ekspresi merajuk seketika membeku. Senyum setengah jadi itu lenyap dalam sepersekian detik, berganti pucat pasi. Di dalam ruangan itu, bukan hanya Leon. Irwan juga ada di sana. Duduk tenang. Tatapannya terangkat perlahan, tepat saat mata mereka bertemu. Suasana langsung berubah. Leon menoleh ke arah pintu, alisnya sedikit berkerut. “Sherly?” Sherly menelan ludah. Tangannya yang masih menggenggam tas mengencang tanpa sadar. Namun secepat mungkin Sherly menguasai dirinya. Wajahnya kembali tenang, sikapnya anggun dan dingin, seolah ia dan Irwan tidak pernah punya kedekatan, bahkan seakan tidak saling mengenal sama sekali. Sementara itu, Irwan bukan tipe pri

