Leon akhirnya menutup berkas di depannya, tanda bahwa ia sudah mengambil keputusan final. “Baik. Mimi bisa mulai tahap awal pelatihan,” ucapnya datar. Isabel tersenyum puas. “Terima kasih, Leon. Kau pasti tidak akan menyesal.” "Pilihanku tidak pernah salah!" Setelah itu ia menepuk bahu Mimi. “Ayo, Mi. Akunpermisi dulu.” “Tapi… nona langsung pergi?” Mimi memandang Isabel dengan wajah sedih seperti anak ayam kehilangan induk. Isabel mengangguk anggun. “Tentu. Kamu kan harus mulai membiasakan diri, tanpa aku di sampingmu.” Mimi langsung pucat. “Tanpa… tanpa nona? Tapi nona, Leon itu… sepertinya bisa membunuh orang hanya dengan matanya saja.” walau berbisik namun masih terdengar. Leon yang masih di ruangan terbatuk pelan. Isabel mendekat pada Mimi, berbisik sambil memegang kedua

